16/09/20



 Assalamualaikum,,,

Merinding

Itu.. serius anak SD?
Kok bisa.. 😢😢
Sesudah jumatan aku masih duduk di teras mesjid di salah satu kompleks sekolah. Jamaah mesjid sudah sepi, bubar masing-masing dengan kesibukannya.

Seorang nenek tua menawarkan dagangannya, kue traditional. Satu plastik harganya lima ribu rupiah. Aku sebetulnya tidak berminat, tetapi karena kasihan aku beli satu plastik.

Si nenek penjual kue terlihat letih dan duduk di teras mesjid tak jauh dariku. Kulihat masih banyak dagangannya. Tak lama kulihat seorang anak lelaki dari komplek sekolah itu mendatangi si nenek. Aku perkirakan bocah itu baru murid kelas satu atau dua.

Dialognya dengan si nenek jelas terdengar dari tempat aku duduk.

“Berapa harganya Nek?”
“Satu plastik kue Lima ribu, nak”, jawab si nenek.

Anak kecil itu mengeluarkan uang lima puluh ribuan dari kantongnya dan berkata :

“Saya beli 10 plastik, ini uangnya, tapi buat Nenek aja kuenya kan bisa dijual lagi.”

Si nenek jelas sekali terlihat berbinar2 matanya :

“Ya Allah terima ksh bnyk Nak. Alhamdulillah ya Allah kabulkan doa saya utk beli obat cucu yg lagi sakit.” Si nenek langsung jalan.

Refleks aku panggil anak lelaki itu.

“Siapa namamu ? Kelas berapa?”
“Nama saya Radit, kelas 2, pak”, jawabnya sopan.
“Uang jajan kamu sehari lima puluh ribu?'”

” Oh .. tidak Pak, saya dikasih uang jajan sama papa sepuluh ribu sehari. Tapi saya tidak pernah jajan, karena saya juga bawa bekal makanan dari rumah.”
“Jadi yang kamu kasih ke nenek tadi tabungan uang jajan kamu sejak hari senin?”, tanyaku semakin tertarik.

“Betul Pak, jadi setiap jumat saya bisa sedekah Lima puluh ribu rupiah. Dan sesudah itu saya selalu berdoa agar Allah berikan pahalanya untuk ibu saya yang sudah meninggal. Saya pernah mendengar ceramah ada seorang ibu yang Allah ampuni dan selamatkan dari api neraka karena anaknya bersedekah sepotong roti, Pak”, anak SD itu berbicara dengan fasihnya.

Aku pegang bahu anak itu :

” Sejak kapan ibumu meninggal, Radit?”
“Ketika saya masih TK, pak”

Tak terasa air mataku menetes :

“Hatimu jauh lebih mulia dari aku Radit, ini aku ganti uang kamu yg Lima puluh ribu tadi ya…”, kataku sambil menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan ke tangannya.

Tapi dengan sopan Radit menolaknya dan berkata :

“Terima kasih banyak, Pak… Tapi untuk keperluan bapak aja, saya masih anak kecil tidak punya tanggungan… Tapi bapa punya keluarga…. Saya pamit balik ke kelas Pak”.

Radit menyalami tanganku dan menciumnya.

“Allah menjagamu, nak ..”, jawabku lirih.

Aku pun beranjak pergi, tidak jauh dari situ kulihat si nenek penjual kue ada di sebuah apotik. Bergegas aku kesana, kulihat si nenek akan membayar obat yang dibelinya.

Aku bertanya kepada kasir berapa harga obatnya. Kasir menjawab : ” Empat puluh ribu rupiah..”

Aku serahkan uang yang ditolak anak tadi ke kasir : ” Ini saya yang bayar… Kembaliannya berikan kepada si nenek ini..”

“Ya Allah.. Pak…”

Belum sempat si nenek berterima kasih, aku sudah bergegas meninggalkan apotik… Aku bergegas menuju Pandeglang menyusul teman-teman yang sedang keliling dakwah disana.

Dalam hati aku berdoa semoga Allah terima sedekahku dan ampuni kedua orang tuaku serta putri tercintaku yang sudah pergi mendahuluiku kembali kepada Allah.

Sahabat ada kalanya seorang ank lebih jujur dri pada orang dewasa,ajrkan lah ank2 kita dri dini tindakan nyata yg bukan teori semata.

Kisah ini dari hamba Alloh.

Silahkan di share sahabat

SHARE AJA….

Boleh di share biar lebih bermanfaat buat orang banyak,

Rasulullah S.A.W bersabda :"Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya,maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala." (HR. Al-Bukhari)

10/09/20

Syekh Abdul Qadir Jailani

Gambar mungkin berisi: 1 orang, janggut, topi dan teks

 Kisah ini diriwayatkan oleh Syekh Abu Said Abdullah bin Ahmad Al-Baghdadi. Dalam kisahnya itu, Al-Baghdadi menjelaskan bahwa pernah ada seorang gadis bernama Fatimah yanng usianya baru sekitar enam belas tahun. Saat gadis itu sedang bermain di atas rumah, ia telah diculik oleh jin. Tentu peristiwa ini membuat geger orang-orang sekampung, terutama orang tua bocah perempuan itu.

Sebagai solusinya, maka orang tua gadis tersebut menghadap Syekh Abdul Qadir Al-Jailani. Setelah mengutarakan apa yang terjadi pada beliau, maka Syekh Abdul Qadir memberikan saran kepada orang tua anak tersebut, “Pergilah kalian ke puing reruntuhan biara, duduklah di bukit yang kelima dan tulislah melingkar di atas tanah. Tulis dan lafazkan dalam hati, ‘Bismillah ‘Ala Niyyati Abdul Qadir‘.

Dan di atas niat Syekh Abdul Qadir Jailani “Apabila malam telah gelap, engkau akan didatangi oleh beberapa kumpulan Jin, dengan berbagai-bagai rupa dan bentuk.

Janganlah engkau takut. Apabila waktu hampir terbit fajar, akan datang pula raja Jin dengan segala angkatannya yang besar. Dia akan bertanya hajatmu. Katakan kepadanya, bahwa aku yang telah menyuruhmu datang bertemu dengannya. Kemudian ceritakanlah kepadanya tentang kejadian yang telah menimpa anak Perempuanmu itu.”

Lelaki itu pun pergi ke tempat itu dan melaksanakan arahan Syekh Abdul Qadir Jailani. Beberapa waktu kemudian, datanglah para Jin yang mencobaba menakut-nakutkan lelaki itu, tetapi Jin-Jin itu tidak berkuasa untuk melintasi garis bulatan itu.

Jin-Jin itu datang silih beragnti, hingga akhirnya, datanglah raja Jin yang sedang menunggang seekor kuda dan telah disertai oleh satu angkatan yang besar dan hebat rupanya.

Raja jin itu telah memberhentikan kudanya di luar garis bulatan itu dan bertanya kepada lelaki itu, “Wahai manusia, apakah hajatmu?” Lelaki itu telah menjawab, “Aku disuruh oleh Syekh Abdul Qadir Jailani untuk bertemu denganmu.”

Begitu mendengar nama Syekh Abdul Qadir Jailani diucapkan oleh lelaki itu, raja Jin itu turun dari kudanya dan terus mengucup bumi.

Kemudian Raja Jin itu telah duduk di atas bumi, disertai dengan seluruh anggota rombongannya. Sesudah itu, Raja Jin itu bertanya masalah lelaki itu.

Lelaki itu pun menceritakan kisah anak perempuannya yang telah diculik oleh Jin. Setelah mendengar cerita lelaki itu, Raja Jin itu pun memerintahkan agar dicari si Jin yang bersalah itu. Beberapa waktu kemudian, telah dibawa ke hadapan Raja Jin.

Jin yang bersalah adalah Jin laki-laki dari negara Cina bersama-sama dengan seorang anak perempuan yang telah diculiknya.

Raja Jin itu pun bertanya, “Kenapakah engkau sambar anak manusia ini? Tidakkah engkau tahu, dia ini berada di bawah naungan al-Quthb?”

Jin laki-laki dari negara Cina itu mengatakan, dia telah jatuh cinta dengan anak gadis itu. Raja Jin memerintahkan agar Perempuan itu dipulangkan kepada bapaknya.

Sebagai hukumannya Jin dari negara Cina dikenakan hukuman pancung. Lelaki itu pun mengatakan rasa takjubnya atas segala perbuatan Raja Jin yang sangat patuh kepada Syekh Abdul Qadir Jailani.

Raja Jin itu berkata, “Sudah tentu, karena Syekh Abdul Qadir Jailani dapat melihat dari rumahnya semua kelakuan Jin-Jin yang jahat.

Selain itu, Al-Baghdadi juga bercerita bahwa suatu hari ada seorang laki-laki yang menghadap Syekh Abdul Qadir Al-Jailani. Ketika di hadapan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, laki-laki itu berkata, “Aku ini berasal dari daerah Asbihan. Dan aku mempunyai istri yang selalu menentangku. Bahkan aku pun sudah menasihatinya baik-baik.”

Mendengar keluhan laki-laki soal istrinya itu, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani pun berkata, “Persoalan yang menimpa istrimu itu disebabkan oleh jin jahat yang berasal dari Lembah Sarandib, namanya Khanis. Jika istrimu menentang lagi, maka ucapkanlah di telinga istrimu itu, ‘Wahai Khanis, Syekh Abdul Qadir yang berada di Baghdad berkata kepadamu, ‘Jika engkau tidak pergi dari jasad orang ini, niscaya engkau akan binasa’.”‘

Setelah itu itu pun pergi. Setelah beberapa tahun, Al-Baghdadi bertemu lagi dengan laki-laki tersebut dan kepada laki-laki ini, Al-Baghdadi menanyakan perihal yang pernah disarankan oleh Syekh Abdul Qadir tersebut, maka laki-laki itu pun menjawab, “Aku melakukan apa yang ia perintahkan. Semenjak itu, istriku tidak pernah menentangku lagi,” jawab laki-laki itu.

Allahu a'lam
Foto: ilustrasi


01/09/20

AKU MALAS BILA IBU DATANG 😥😥


Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih dan orang duduk

AKU MALAS BILA IBU DATANG 😥😥

Selesai sudah masakanku. Oseng ikan asin dan sayur asam adalah nama menunya. Ini akhir bulan. Sisa keringat suamiku harus aku hemat-hemat. Di dalam dompetku ada dua ratus ribu. Biasanya cukup untuk satu Minggu menyambung pada gajian berikutnya.

Kami baru saja selesai makan saat Ibu menelepon.

"Tik, Ibu ini lagi jalan ke rumahmu. Mumpung libur kerjanya. Kamu di rumah, 'kan?" katanya dari seberang.

Aku meneguk ludah.

"Tik! Walah anak ini diajak omong kok malah ngelamun."

"I ... iya. Titik di rumah, Bu. Dua Minggu lalu, 'kan Titik sudah jenguk Ibu. Nginap satu Minggu lagi. Seharusnya, Ibu nggak perlu repot-repot ke mari. Liburan dipakai istirahat saja, 'kan enak," kataku sambil mengetuk-ngetukan jemariku ke meja.

"Bosan, Tik. Sudahlah. Tunggu Ibu, ya? Kamu sudah masak, 'kan? Ibu belum sarapan soalnya."

Aku menghela napas. Melirik ke atas meja lauk-pauk yang cukup untuk makan siang kami.

"Sudah, Bu."

"Alhamdulillah. Yowes, Ibu tutup dulu. Assalamualaikum!"

Ibu menutup telepon lebih dulu.

Suamiku mendengkus. Mungkin dia dengar percakapanku dan Ibu.

"Ibu kamu mau ke sini?"

"Iya, Mas. Sudah di jalan katanya."

"Hm ... kemarin, 'kan kamu dan Jaguar sudah ke sana satu Minggu. Ngapain Ibu ke sini lagi?" tanyanya sambil membaca koran.

"Masih kangen, Mas. Mumpung libur kerjanya." Aku mendekati Mas Leon, duduk di sampingnya.

"Ck!"

Aku menghela napas. Barangkali Mas Leon keberatan Ibu datang karena waktunya tidak tepat. Ini tanggal tua. Apa nanti yang akan kami suguhkan kepada Ibu? Tidak mungkin, 'kan bila ikan asin berturut-turut? Lagi pula, apa nanti kata Ibu bila kami menyajikan makanan tidak enak seperti ini untuknya? Sedangkan yang Ibu tahu, aku ini selalu makan enak. Hidup tidak kekurangan. Tidak pusing memikirkan besok uang cukup untuk beli makan atau tidak. Itu semua karena aku tidak pernah mengeluh padanya.

Aku selalu mengatakan bahwa semua baik-baik saja, padahal suamiku sedang sepi pekerjaannya. Aku sudah makan, padahal hari itu puasa karena beras tinggal satu gelas. Aku makan daging, padahal lauk-pauk yang ada hanya tahu, tempe, dan ikan teri. Lalu ketika Ibu meminta dibelikan gamis untuk bekerja, aku selalu membelikannya tanpa mengatakan bila aku sedang tidak punya uang. Itu pun aku membelinya dengan menyicil ke tetangga. Terkadang aku ingin bekerja saja, tetapi Mas Leon tidak ikhlas bila Jaguar diurus oleh orang lain. Aku maklumi alasannya, karena Jaguar anak spesial. Berdagang online juga tidak memungkinkan karena ponsel kami cuma satu. Biasanya, dibawa Mas Leon ke mana-mana.

Aku baru saja memandikan Jaguar ketika Ibu datang. Kulihat wajahnya begitu bahagia. Mata jelinya berbinar bahagia. Aku pun bahagia melihat Ibu datang. Pelukan, ciuman ia daratkan padaku, dan Jaguar. Meski aku telah berumah tangga dan memiliki anak, bagi Ibu aku tetap anak kecil.

"Duh, gantengnya cucuku. Sudah makan kamu, Nak?" tanyanya pada Jaguar.

"Kami sudah makan, Bu. Ayo Ibu makan dulu. Katanya belum sarapan, to?"

Ibu nyengir. Aku tersenyum melihatnya. Aku dudukkan Jaguar di kursi roda. Anakku itu sudah besar, jadi lumayan berat. Meski begitu, aku tidak merasa bahwa dia benar-benar berat.

"Kok tumben masak ikan asin, Tik?" tanyanya saat aku membuka tudung saji.

"Iya, Bu. Requestnya Mas Leon. Bosan makan ikan, dan daging-dangingan," jawabku tak berani menoleh padanya.

"Oh ... gitu. Yawes nggak apa-apa. Sini buruan, Ibu sudah lapar!"

"Iya. Ibu tunggu di depan saja, ya. Nanti piringnya Titik antar."

"Iya!"

Aku menatap punggung ringkih Ibu dengan mata sayu. Merasa bersalah karena telah berbohong padanya. Namun, aku menikmati kebohongan ini. Setidaknya, Ibu tidak kepikiran tentang nasibku, menantu, dan cucunya.

*

"Enak, Tik. Tambah jago saja kamu masaknya. Ibu nambah, yo?"

Aku tersenyum mengiyakan. Mengambil alih piring Ibu, mengisinya dengan nasi, dan lauk-pauk lagi, lalu memberikannya kepada Ibu.

"Suamimu mana?"

"Di bengkel, Bu."

"Kerjaannya stabil, 'kan?"

"Alhamdulillah stabil, Bu. Setiap hari pasti ada saja pelanggannya. Berkat do'a Ibu ini." Aku mencolek pipi halus Ibu, menggodanya yang sedang menguyah.

"Juga karena kamu ini anak berbakti, jadi Allah sayang sama kamu, cukupkan rezeki kamu. Keren kamu, Tik!"

Oh Ibu ... anak berbakti ini yang selalu membohongimu, Bu.

*

Aku membuka rice cooker nasi tinggal satu piring. Inisiatif aku mencuci beras lagi, memasaknya jadi nasi. Tidak pusing aku masalah pernasian, yang kupikirkan sekarang adalah lauknya.

"Tik!" tegur Ibu ketika aku melamun di ruang makan.

"Dalem, Bu? Ibu sudah bangun? Ibu lapar, nggak? Mau makan siang?" tanyaku.

"Nggak! Ibu masih kenyang. Kamu nggak ngirim Leon makan siang?"

Aku tersentak. Aku kelupaan.

"Astaghfirullah! Aku kelupaan, Bu. Sebentar, ya, Bu. Aku siap-siap dulu."

Buru-buru aku menyiapkan makan siang Mas Leon. Memasukkan sisa nasi satu piring tadi ke kotak bekal, menuangkan ikan asin yang tinggal beberapa biji, lalu sayur asam ke dalam plastik.

"Aku pergi dulu, Bu. Nitip Jaguar, ya!"

"Iya, hati-hati."

*

Cuaca panas sekali hari ini. Meski begitu, aku tetap mengayuh sepedaku ke bengkel tempat Mas Leon bekerja. Dia sedang memperbaiki sebuah motor. Bajunya hitam semua, wajahnya kusam, dan keringatnya mengalir deras. Tangan kokohnya cekatan memutar roda motor itu.

"Mas!" panggilku.

Mas Leon menoleh. Sedikit senyum ia sunggingkan. Jelas sekali dia sedang marah karena aku terlambat mengirim makan.

"Letakkan di sana saja, Dik. Mas masih sibuk," katanya melanjutkan pekerjaan.

"Maaf telat ngirimnya ya, Mas. Segera di makan, takut nanti nasinya dingin."

"Hm ...," jawabnya singkat tak mengacuhkan ku.

"Aku pergi. Assalamualaikum."

Aku kembali mengayuh sepedaku setelah jawaban salamnya. Aku melihat pedagang es campur. Pasti Ibu senang bila aku membelikannya satu bungkus.

"Satu, ya, Bang."

"Baik, Bu."

Tak sampai lima menit aku menunggu, es campur itu telah siap aku bawa pulang.

"Berapa, Bang?"

"Delapan ribu, Bu."

Aku menyerahkan uang pas. Kukayuh lagi sepeda dengan lebih semangat. Bayangan Ibu menikmati es campur terputar sepanjang perjalanan.

*

Aku memarkir sepeda. Kulihat Ibu menyuapi Jaguar makan. Aku terkejut karena Ibu menyuapi Jaguar dengan sup buntut.

"Ibu beli?"

"Nggak. Dikasih tadi sama Mirna. Katanya, dia masak kebanyakan."

Dahiku mengernyit. Mirna, tetanggaku sama sepertiku. Kami hidup dengan sederhana. Jelas perkataan Ibu tidak masuk ke dalam otakku.

"Kamu makan, sana! Dikasih banyak sama Mirna. Ibu juga sudah makan. Iya, 'kan, Jaguar?"

Jaguar mengangguk. Aku tidak ambil pusing lagi perihal sup buntut. Selain karena tidak suka berdebat, aku juga sudah lapar.

*

"Wah es campur! Enak ini!" pekik Ibu antusias ketika aku menghidangkan es campur padanya.

"Enak, Bu. Es campur ini terkenal sekali di sini. Ibu harus coba," kataku menyuapkan satu sendok untuk Ibu.

Tangan Jaguar bergerak-gerak. Rupanya, anak tampanku itu ingin es campur juga.

"Nenek siapin, nih. Hm ... enak, to?"

Jaguar mengangguk sambil tersenyum.

"Pintar sekali cucuku ini."

Aku tersenyum.

"Ibu rencana pulang kapan?" tanyaku.

"Dua hari lagi. Boleh, ya?"

"Boleh dong, Bu. Titik senang Ibu datang mengunjungi kami," kataku.

Jujur saja, didatangi orang tua itu seperti oase di gurun pasir. Rasanya hari-hari berat tidak terasa karena senyum mereka seperti obat.

*

Mas Leon pulang sedikit lebih malam dari biasa. Mas Leon menghampiri Ibu yang kebetulan masih terjaga di depan TV. Di tangan Mas Leon tergantung satu kantung plasti.

"Assalamualaikum, Bu. Maaf Leon harus lembur. Ini Leon bawakan terang bulan kesukaan Ibu," katanya menyalami Ibu lalu meletakkan kantung plastik itu di atas meja. Mas Leon memintaku mengambilkan piring. Tentu langsung aku turuti. Ku lirik kardus kemasan terang bilang itu. Rupanya, terang bulan yang sedang hits saat ini. Satu loyang dengan kombinasi dua rasa saja harganya di atas dua puluh ribu. Sepadan sekali dengan rasanya yang enak.

Ibu sumringah. Ibu dan makanan manis itu seperti gagang dan pintu, tidak terpisahkan. Tak henti-hentinya aku berterimakasih kepada Mas Leon karena telah berbaik hati kepada Ibu. Membawakan makanan kesukaan Ibu. Mas Leon tersenyum. Meski begitu, aku tahu kepalanya pusing mengingat bertambahnya pengeluaran hari ini. Namun, dia sungguh baik kepada Ibu. Mulutnya boleh saja keberatan, tapi hatinya tak tega bila menolak Ibu.

*

Dua hari berlalu. Dalam dua hari itu aku selalu memberikan yang terbaik untuknya. Rendang daging sapi di hari pertama, dan gurame bakar di hari selanjutnya.

"Ibu pulang dulu. Kamu hati-hati di rumah, jagain Jaguar. Jangan telat makan." Ibu menasihatiku dengan berkaca-kaca. Mungkin, ia masih berat meninggalkan kami.

"Iya, Bu. Ibu juga jaga kesehatan, jangan telat makan. Vitaminnya juga diminum rutin, ya, Bu," pesanku menyinggung vitamin yang setiap bulan aku kirimkan untuknya.

Ibu mengangguk, menyeka sudut matanya, lalu naik ke atas motor Mas Leon.

"Assalamualaikum!"

"Wa'allaikumsallam."

Aku menghela napas berat. Jujur saja, aku juga berat melihat Ibu pergi. Ku lihat lagi dompet di atas meja. Sisa tujuh puluh lima ribu. Helaan napas ku semakin berat saja.

*

Siang harinya Mirna menyapa ku yang sedang menyuapi Jaguar makan.

"Sudah pulang Ibumu, Tik?"

"Sudah, Mir. Omong-omong, terimakasih ya sup buntutnya."

Mirna mengangkat sebelah alis.

"Aku yang harusnya terimakasih, Tik. Ibumu itu baik sekali sudah membelikanku sup buntut."

Deg!!!

Aku tertegun.

"Dia juga belikan Surya es krim satu tepak."

"Kamu bertemu Ibu di mana?"

"Di warung Bu Hamidah. Kami bercerita-cerita sedikit. Semoga Ibumu sehat selalu, Tik. Orang seperti beliaulah yang selalu membuatku iri. Aku pergi dulu."

Aku masih tertegun, lambat mencerna perkataan Mirna.

*

Aku menunggu Mas Leon pulang untuk meminjam ponselnya. Mau menanyakan pada Ibu kebenarannya. Tadi, saat Mirna mengatakan warung Bu Hamidah, aku langsung teringat sesuatu.

"Sudah lunas semua, Tik. Ibumu yang bayar." Begitulah kata Bu Hamidah saat kutanya perihal hutangku. Aku menangis begitu saja. Ibuku itu ...

Sambil menunggu, aku bersihkan kamar yang semalam Ibu tempati. Air mata masih tak bisa berhenti.

Aku terkejut sekali lagi, menangis semakin jadi, ketika bantal bekas ia tidur aku angkat. Sepuluh lembar uang seratus ribu yang di satukan dengan streples tergeletak begitu saja. Di sana ada tulisan.

"Terimakasih sudah memberikan yang terbaik untuk Ibu. Sungguh Allah teramat baik hati menjadikanmu anakku. Sedikit tanda cinta Ibu berikan.

Untuk anak Ibu yang selalu berbohong. Namun, Ibu begitu bangga karenanya. Sehat-sehat anakku, menantuku, cucuku."

____

Tamat
by;Ilham AKbar, S.Q. S.Pd

27/08/20

 Gambar mungkin berisi: langit, awan, alam dan luar ruangan, teks yang menyatakan 'Kisah Umar bin Khattab Radhiallahu 'Anhu 1 "Pembunuhan terhadap Umar bin Khattab Radhiallahu 'Anhu yang dilakukan oleh Fairuz Abu Lu'lu'ah"'

Bismillahirrahmaanirrahiim

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Pada era Umar bin Khattab Radhiallahu 'Anhu tidak sedikit wilayah Persia dan Romawi yang ditaklukkan, bisa jadi banyak penduduk non muslim yang negerinya ditaklukkan, singgasananya runtuh, dan kerajaannya hilang itu iri terhadap kaum muslimin, khususnya kepada Umar bin Khattab Radhiallahu 'Anhu.

Mereka tidak mampu menghentikan ekspansi Islam yang menghanyutkan negerinya, dan tidak ada jalan lain bagi mereka selain melakukan makar terhadap Islam dan kaum muslimin lewat diri Khalifah Umar.

Untuk itu, sebuah konspirasi untuk pembunuhan Khalifah direncanakan melalui tangan seorang tawanan perang Nahawand bernama Abu Lu'lu'ah Fairuz Al-Majusi --budak Al-Mughirah bin Syu'bah, tawanan ini sangat sakit hati dan dengki kepada kaum muslimin.

Jika ia melihat tawanan anak-anak kecil, ia mendatanginya dan mengusap kepala mereka, lalu menangis sambil berkata, "Bangsa Arab telah memakan jantungku."

(Ath-Thabaqat Al-Kubra, karya Ibnu Sa'ad, III/201).

Adapun bagaimana terjadinya kejahatan mungkar ini, diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab Radhiallahu 'Anhu tidak memperbolehkan orang musyrik dewasa untuk masuk ke Madinah.

Hal ini terus berlangsung hingga datang surat dari Al-Mughirah bin Syu'bah, gubernurnya di Kufah, memohon izin kepada Khalifah Umar agar budaknya bernama Abu Lu'lu'ah bisa masuk ke Madinah, sebab orang ini cakap dalam berbagai industri atau kerajinan yang bisa dimanfaatkan oleh kaum muslimin, ia adalah seorang tukang kayu, pandai besi, dan pemahat, akhirnya Umar pun memberinya izin masuk ke Madinah.

Ketika Umar bin Khattab ra sebagaimana biasanya berkeliling di pasar Madinah, hamba sahaya itu menemuinya dan mengadukan Al-Mughirah karena ia mewajibkan bayaran pajak yang banyak, pajak penghasilan yang banyak, lantas Umar ra bertanya, "Berapa pajak mu?"

Budak itu (Abu Lu'lu'ah) menjawab, "Dua dirham perhari."
Umar ra bertanya lagi, "Apa pekerjaanmu?"
Budak itu menjawab, "Tukang kayu, pandai besi dan tukang ukir."

Umar bin Khattab Radhiallahu 'Anhu berkata, "Aku tidak melihat pajakmu terlalu banyak untuk pekerjaan yang engkau buat, aku dengar engkau mengatakan, 'Seandainya engkau menginginkan aku membuat kincir angin, pasti aku melakukannya."

Budak itu menjawab, "Ya." Lalu ia berkata lagi, "Kalau aku selamat, aku akan membuat kincir yang menjadi buah bibir orang di timur dan barat."

Budak itu pergi dari hadapan Umar, lantas Umar berkata, "Baru saja budak ini mengancamku!"

Pada hari berikutnya, Umar bin Khattab Radhiallahu 'Anhu didatangi Ka'ab Al-Ahbar seorang Yahudi yang masuk Islam, lalu ia berkata kepada Umar, "Wahai Amirul Mukminin, aku bersumpah bahwa engkau akan meninggal setelah tiga hari."

Khalifah Umar bertanya, "Dari mana engkau tahu?"
Ka'ab menjawab, "Aku menemukannya dalam kitab Taurat."

Umar bertanya lagi, "Apakah engkau benar-benar menemukan Umar bin Khattab dalam Taurat?"

"Memang tidak, namun aku menemukan sifat dan bentuk, dan sesungguhnya ajalmu segera tiba," jawab Ka'ab Al-Ahbar.

Padahal saat itu Umar dalam kondisi sehat dan segar bugar, esok harinya Ka'ab Al-Ahbar datang lagi sambil berkata, "Satu hari telah berlalu, dan tersisa dua hari."

Esok harinya ia datang lagi sambil berkata, "Dua hari telah berlalu dan tersisa satu hari, hari ini milikmu hingga besok pagi."

Ketika Subuh tiba, Umar bin Khattab Radhiallahu 'Anhu berangkat untuk menunaikan shalat tanpa memedulikan omongan yang didengarnya, Umar berada di tengah-tengah barisan tanpa menghiraukan omongan yang disampaikan kepadanya.

Di dalam barisan itu ada tentara bertugas, jika barisan sudah sama, Umar pun datang sambil bertakbir, pada saat demikian Abu Lu'lu'ah masuk menerobos kerumunan orang sambil menghunus belati bermata dua.

Ia (Abu Lu'lu'ah) memegang bagian tengah belati itu dan menusuk Umar sebanyak enam tusukan, satu tusukan mengenai bawah pusarnya, lantas Umar berkata sambil terjatuh, "Apakah di tengah-tengah manusia ada Abdurrahman bin Auf?"

Orang-orang menjawab, "Ya, Wahai Amirul Mukminin, inilah orangnya."

Umar bin Khattab Radhiallahu 'Anhu berkata, "Majulah dan pimpinlah manusia untuk mengerjakan shalat."

Kemudian Abdurrahman bin Auf mendirikan shalat, sedangkan Umar tergeletak di lantai, setelah itu Umar digotong kerumahnya.

Sementara itu, Abu Lu'lu'ah menebaskan belatinya ke kanan dan ke kiri sehingga melukai tiga belas orang kaum muslimin; tujuh diantaranya meninggal dunia.

Lantas seorang lelaki bernama Hithan At-Tamimi menghampiri Abu Lu'lu'ah lalu melemparkan kainnya dan mendekapnya, melihat hal ini Abu Lu'lu'ah langsung menusuk dirinya hingga mati.

Umar sangat memperhatikan orang yang ingin membunuhnya, lantas Umar menyuruh Abdullah bin Abbas untuk melihat siapa pembunuhnya, ia berkeliling sesaat lalu menghadap lagi kepada Umar dan berkata, "Budak sahaya Al-Mughirah bin Syu'bah."

Umar bin Khattab Radhiallahu 'Anhu berkata, "Segala puji bagi Allah yang tidak menjadikan pembunuhku mendakwaku di sisi Allah terhadap sujud yang ia lakukan, pasti orang Arab tidak akan membunuhku."

(Ath-Thabaqat Al-Kubra, karya Ibnu Sa'ad, II/521. Ath-Thabari, IV/191).

Puasa Tasua dan Asyura Muharram 2020

Dalil Tentang Puasa Tasu'a dan Asyuro' – IDTODAY.CO – Membangun Peradaban  Negeri

 ﷽

اَلسَلامُ عَلَيْكُم وَرَحْمَةُ اَللهِ وَبَرَكاتُهُ
Ini Jadwal Puasa Tasua dan Asyura Muharram 2020 Lengkap dengan Bacaan Doa Serta Keutamaannya
, bulan Muharram juga memiliki keutamaan yang luar biasa.
Di bulan Muharram, umat muslim akan memperingati Tahun Baru Islam dan menjalankan puasa Tasua dan puasa Asyura.

Tahun baru Islam 1 Muharram 1442 tahun ini bertepatan dengan tanggal 20 Agustus 2020.
Di malam tahun baru Islam, umat muslim disunahkan membaca doa akhir tahun dan awal tahun.
Selanjutnya memasuki jari ke-9 dan ke-10 bulan Muharram, umat muslim disunahkan menjalankan puasa Tasua dan Asyura.
Puasa Tasua merupakan puasa sunnah yang bisa dikerjakan pada tanggal 9 Muharram atau 28 Agustus 2020.
Sedangkan puasa Asyura ditunaikan pada tanggal 10 Muharram atau 29 Agustus 2020. Berikut ini bacaan niat serta keutamaan puasa Tasua dan puasa Asyura.

Puasa Tasua dilaksanakan pada tanggal 9 Muharram.
Berikut bacaan niat Puasa Tasua :
نَوَيْتُ صَوْمَ تَاسُعَاءْ سُنَّةَ ِللهِ تَعَالَى
"Nawaitu sauma tasu'a sunnatal lillahita’ala"
Artinya: Saya niat puasa hari tasua, sunnah karena Allah ta’ala.
Ada tiga hikmah disyariatkannya puasa pada hari Tasua:

1. Untuk menyambung puasa hari Asyura dengan puasa di hari lainnya, sebagaimana dilarang berpuasa pada hari Jum’at saja.
2. Untuk kehati-hatian dalam pelaksanaan puasa Asyura, dikhawatirkan hilal berkurang sehingga terjadi kesalahan dalam menetapkan hitungan, hari kesembilan dalam penanggalan sebenarnya sudah hari kesepuluh.
3. Untuk membedakan dengan orang Yahudi yang hanya berpuasa pada hari kesepuluh saja.

Niat Puasa Asyura
Dalam mazhab Syafi’i, lafal niat Puasa Asyura sebagai berikut:
نَوَيْتُ صَوْمَ فِيْ يَوْمِ عَاشُوْرَاء سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى
(Nawaitu shouma fii yaumi aasyuuroo’ sunnatan lillaahi ta’aalaa)
Artinya: saya niat puasa sunnah asyura sunnah karena Allah Ta’ala.
Keutamaan Puasa Asyura
Puasa Asyura memiliki keutamaan yang luar biasa.

Tiga di antara keutamaan Puasa Asyura dijelaskan dalam hadits-hadits berikut ini.
1. Puasa paling utama
Puasa Asyura (juga puasa Tasua) merupakan puasa yang dikerjakan di bulan Muharram.

Puasa di bulan Muharram merupakan puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan keutamaan puasa Muharram dengan sabda beliau:
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ
“Puasa paling utama setelah Ramadhan adalah (puasa bulan) Muharram dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam.” (HR. Muslim)

سُئِلَ أَىُّ الصَّلاَةِ أَفْضَلُ بَعْدَ الْمَكْتُوبَةِ وَأَىُّ الصِّيَامِ أَفْضَلُ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ فَقَالَ أَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الصَّلاَةِ الْمَكْتُوبَةِ الصَّلاَةُ فِى جَوْفِ اللَّيْلِ وَأَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ صِيَامُ شَهْرِ اللَّهِ الْمُحَرَّمِ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya, “Shalat manakah yang lebih utama setelah shalat fardhu dan puasa manakah yang lebih utama setelah puasa Ramadhan?”
Beliau bersabda, “Shalat yang paling uatama setelah shalat fardhu adalah shalat di tengah malam dan puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah (yakni) Muharram.” (HR. Muslim, Abu Dawud, dan Ahmad)

2. Puasa yang diutamakan Nabi
Puasa Asyura merupakan puasa yang istimewa bagi Rasulullah dan sangat diutamakan beliau.
Ibnu Abbas menerangkan, tidak ada puasa sunnah yang lebih diutamakan Rasulullah melebihi Puasa Asyura.
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ – رضى الله عنهما – قَالَ مَا رَأَيْتُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ فَضَّلَهُ عَلَى غَيْرِهِ ، إِلاَّ هَذَا الْيَوْمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَهَذَا الشَّهْرَ . يَعْنِى شَهْرَ رَمَضَانَ
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu ia berkata, saya tidak pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperhatikan puasa satu hari yang diutamakannya atas yang lainnya selain hari ini, hari asyura dan bulan Ramadhan. (HR. Bukhari)
3. Menghapus dosa setahun sebelumnya
Inilah keutamaan Puasa Asyura yang paling banyak diketahui.
Puasa Asyura dapat menghapus dosa setahun sebelumnya, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ
Rasulullah ditanya tentang Puasa Asyura, beliau menjawab, “dapat menghapus dosa setahun sebelumnya.” (HR. Muslim)

semoga bermamfaat..🤲🏻🙏🏻

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ
مُحَمَّد

26/08/20

"RENUNGAN UNTUK KITA BERSAMA"

 Keterangan foto tidak tersedia.

"RENUNGAN UNTUK KITA BERSAMA"

Alkisah seekor rusa betina
sedang sarat bunting.
Ketika hampir detik-detik kelahirannya,
rusa ini pergi ke suatu tempat yang jauh
di pinggir hutan yang berdekatan
dengan sungai.

Tiba-tiba.....
sesuatu yang tidak ia bayangkan terjadi !

Terdengar suara gemuruh dari langit dan tiba-tiba tampak kilat yang menyambar kepermukaan bumi. Hutan kering ini terbakar dahsyat karena percikan api dari petir tersebut.

Ketika rusa ini menoleh ke kiri,
tampak seorang pemburu telah siap melesatkan anak panah ke arahnya.

Saat menoleh ke kanan,
ia pun terkejut melihat seekor singa lapar
yang siap menerkamnya.

Maka tiada pilihan bagi rusa ini selain :

1. Mati dimangsa singa.
2. Mati terkena panah.
3. Mati terbakar.
4. Atau mati tenggelam karena melompat
ke sungai.

Yang jelas ...
Bahaya mengancam dari berbagai penjuru
dan tidak ada lagi kesempatan untuk berlari.

Lalu apa yang harus ia lakukan?
Bersedih dan merintih?

Menangis dan menjerit?
Atau ia harus berlari
sementara kondisinya begitu lemah?
Atau menyerah pada keadaan?

Rusa pun pasrah.
Dia hanya fokus untuk melahirkan bayinya.

Lalu apa yang terjadi?

Kilat-kilat yang menyambar mengganggu pandangan si pemburu.
Akhirnya panah yang dilesatkan pun meleset dan mengenai si singa lapar.
Singa malang itu mati seketika.

Tiba-tiba hujan datang begitu deras dan memadamkan kebakaran di hutan tersebut.

Pemburu lari mencari tempat berteduh dan tidak fokus lagi kepada rusa tersebut.

Rusa pun melahirkan dengan selamat !

Sahabatku....

Segala kesulitan menyerbumu dari segala arah. Masalah datang bertubi-tubi seakan tak memberimu kesempatan untuk bernafas lega.

Masalah di tempat bekerja,
masalah di dalam rumah,
masalah di jalan,
masalah dengan anak-anak kita semuanya datang bersamaan.

Seakan kamu tidak bisa lagi berbuat apa-apa..

Lalu apa yang harus dilakukan?
Jadilah seperti Rusa.
Biarkan semuanya berjalan apa adanya.

Lakukan sesuatu yang mampu kau lakukan !
Selebihnya serahkan kpada ALLAH

Kaum Milenial, Masihkah Bisa Hidup Zuhud?

Gambar mungkin berisi: 4 orang, orang berdiri

 Kaum Milenial, Masihkah Bisa Hidup Zuhud?

Oleh: Ilham Akbar

Mungkin dari kalian sudah ada yg membacanya di beranda saya, coba saya kirim disini, semoga bermanfaat.😊

-Prolog-
"heran, kenapa ya, katanya kiai, kok hidupnya perlente banget,"

Bisik seorang pemuda kepada temanya ketika akan wawancara kepada seorang kiai yang terkenal nyentrik.

Oleh sang kiai Kedua pemuda tadi disuguh minuman madu asli, bila dikalkulasi per-liternya Muahall...

"Mas, mari pindah ke Gazebo disamping rumah, disitu lebih adem suasananya"

Dua pemuda lantas berjalan membuntut dibelakang Sang Kyai, 50 Meter menuju Gazebo tadi melewati taman-taman yang dihiasai tanaman indah dan bunga-bunga pancawarna. Setelah sampai di Gazebo Sang Kiai Bertanya

"Gimana Mas, taman yang kita lewati tadi, indah bukan?"
"Maaf, Tanaman yang mana yai?"
"Loh apa kalian tidak lihat?"
"tidak yai, saya konsentrasi memegang Minuman Madu ini takut Tumpah yai"

"Begitulah, harta kekayaan saya ini laksana Taman-taman tadi, meskipun itu ada diberbagai sisi saya, tapi saya tak pernah Menghiraukanya, Harta itu hanya ada di kekuasaan saya, tidak sampai ke hati, konsentrasi saya tetap kepada illahi."

Dua Pemuda tadi hatinya tersentak, kaget, kenapa sang kiai mengetahui apa yang ada di uneg-uneg mereka.
setelah itu pemuda malu, dan benar-benar sang kiai ini layak menjadi ulama yang memiliki ribuan umat.

------------

Apakah Bisa Kaum Milenial Hidup Zuhud????
pertanyaan yang kadang terbesit dalam diri kita.

Kaum Milenial dan Zuhud, Stereotipe kita megenai dua hal ini nampak berkebalikan, dan sangat sulit bila disatukan.

Kaum Milenial identik dengan gaya hidup yang necis, glamour, eksis, kaya raya dan serba gemerlap meskipun sebagian ada juga yang proletar (termasuk saya😅).

Sedangkan Zuhud, berkebalikan dengan apa yang menjadi kebiasaan gaya hidup kaum Milenial.

Yang terngiang dalan pikiran kita, ketika mendengar istilah zuhud adalah sebuah lifestyle yang serba sederhana, apa adanya, miskin dan jauh dari gemerlap dunia.

Apalagi zaman sekarang segalanya sudah terpenuhi, serba enak bahkan instant, Genereasi Milenial seolah sudah ogah dan pesimis untuk bisa bergaya hidup zuhud.
Maka tak heran, ketika kita ngaji Bab Zuhud terkadang hati kita 'protes' terhadap Mushonif Kitab:
"Sulitlah, wong zamanya sekarang serba mewah, serba ada, mana bisa hidup Zuhud?"

Eitsss... Jangan salahkan Zamanya, zaman tidak pernah salah Guys, seperti syair yang saya peroleh dari Gus Reza ini:
نعيب زما نناوالعيب فينا # وما لزمننا عيب سوانا
Artinya: " Kita Menyalahkan masa, sedangkan kesalahan itu ada pada kita # Tidaklah masa itu salah melainkan kita sendiri."

Gimana, ketika banyak yang bac*t "Emang sudah Zamanya" "Zamanya sudah ndak karuan" "Zaman Edan" dan bla..blaa ... Blaaa lainya yang selalu mengkambing hitamkan Zaman, padahal manusia sendiri yang berulah. Seperti pada QS Ar-Rum:41 (Ayatnya cari sendiri, enakmen tak kasih🤗).

Oke, mari Tenangkan diri Guys, Stop Pesimis, masih ada kesempatan bagi kita sebagai kaum milenial tapi tetap bisa menjalani hidup zuhud ditengah zaman yang serba bergelimang ini.

Lekat diingatan kita seorang ulama yang bergelimang harta, namun tetap kukuh hidup zuhud. Barangkali kita bisa mengambil ibrah dari beliau. (Saya tuliskan lagi siapa tau kalian lupa kisah ini, 😊)

Yaps, beliau Imam Abu Hasan As-Syadzili (W.1258), pendiri tarekat Syadziliah yang ajaranya tersebar luas dipenjuru Dunia. Sebelum era milenial sekarang, kehidupan beliau sudah 'keren' sejak zaman dahulu. Stylenya Perlente. Pakaianya bagus-bagus, makanya enak, bahkan memiliki Kuda yang tergolong mewah pada zamanya. Akan tetapi hati beliau tetap Cinta Pada Allah, Dunia hanyak sekedar digenggaman tangan saja.

Lalu bagaimana beliau bergelimang harta, berpakain necis, dan dari kasat mata hidupnya terlihat serba enak? Akan tapi tetap bisa melakoni hidup zuhud?

Syekh Abdul Wahab As-Sya'roni, salah satu murid Imam As-Syadzili dalam kitab Minahus saniahnya mengungkapkan "
وقد كان أبو الحسن الشاذلي رحمه الله تعالى يقول لأصحابه "كلوا من أطيب الطعام واشربوا من ألذ الشراب وناموا على أوطأ الفراش والبسوا ألين الثياب فإن أحدكم إذا فعل ذلك وقال الحمد لله يستجيب كل عضو فيه للشكر"

Artinya, “Syekh Abul Hasan As-Syadzili pernah berkata kepada muridnya, ‘Makanlah hidangan paling enak, reguklah minuman paling nikmat, berbaringlah di atas kasur terbaik, kenakanlah pakaian dengan bahan paling lembut. Bila satu dari kamu melakukannya lalu berucap syukur, ‘alhamdulillah’, maka setiap anggota tubuhnya ikut menyatakan syukur.'”

Jika kita komparasikan dengan zaman sekarang, subtansi dari perkataan beliau adalah 'bersyukur', terhadap segala kenikmatan yang diberikan oleh Allah SWT.

Kaum milenial sah-sah saja berpenampilan gaul, Fashionya trendy, memiliki HP terkini, Mobilnya Bugati , nongkrongknya di KFC akan tetapi tetap wajib bersyukur secara totalitas atas kenikmatan yang diberikan-NYA.

Daripada kita berpakaian compang camping, makanan yang tidak uenak, serba asin dan serba apa adanya, akan tetapi kita tidak bersyukur, malah sambat terus bahkan lebih parahnya tidak Ridha atas pemberin-NYA.

"Maka lebih baiknya kita gaul tapi bersyukur daripada sederhana tapi sambat dan kufur nikmat atas pemberian-NYA."

Bukaknkah Esensi dari Zuhud itu berada dihati? Meskipun secara Dhohir kita tampak Gemerlap, usahakan hati kita tidak condong pada dunia, tidak cinta pada dunia. Cukuplah Dunia berada ditangan kita tapi jangan sampai dihati kita. Seperti yang diterapkan Imam Syadzili diatas.( Meskipun sulit Guys, Imam Syadzili Terkenal Wali, Lha Kita??? Wali santri aja belum, hiks😢 keep optimis.)

Adalagi kisah menarik lainya dari Abu Hasan As-Syadzili, ketika itu salah satu santri dari kerabat beliau soan. Sesampainya dirumah Imam Syadzili, didalam hati sang santri itu beranggapan buruk, mana mungkin seorang ulama sufi yang terkenal ini hidup bergelimang harta? Santri tadi merasa gurunyalah yang notabene hidup miskin yang lebih pantas dianggap Ulama.

Namun setelah santri tadi menyampaikan salam dari gurunya kepada Imam Syadzili dan meminta Nasehat, Imam Syadzili berkata "Tolong sampaikan ke gurumu, kapan berhenti memikirkan dunia."

Sang santri lantas bingung, tidak faham dengan maksud dari perkataan Imam Syadzili, setelah kembali dan menyampaikan nasihat Imam Syadzili kepada gurunya, Kemudian gurunya berkata sambil menangis "Benar yang dikatakan oleh Imam Syazili bahwa meskipun ia banyak harta, tapi tidak sedikitpun hartanya menempel dan melekat di hatinya. Sedangkan saya yang dalam kondisi miskin, tapi masih memikirkan kapan memiliki harta". Sang murid pun akhirnya memahami maksud Imam Syadzili dan anggapan buruknya tadi keliru.

Apa yang kaum Milenial lakukan sebenarnya merupakan perkara mubah, berpakaain gaul, makan enak, dan memiliki kendaraan Wah (asalkan diperoleh dengan cara halal pula). Senada denga Dawuh Gus Baha, "melakukan perkara Yang menyenangkan tapi tidak maksiat itu sudah baik"

Yang terpenting tidak sampai cinta dunia secara berlebihan dan Kembali lagi hal ini sangat sulit kita lakukan. Kita masih saja 'sedikit' cinta dunia, buktinya? Ketika ada harta kita yang hilang, kemudian susahnya ndak karuan, hal itu termasuk masih cinta dunia. (Seperti yang baru saya rasakan Kemarin sewaktu HP Tiba-tiba rusak, Heheu galau ndadak, Pikiran ndak karuan)

Dalam melaksanakan perkara yang senang namun tidak haram, juga dianjurkan oleh ulama kita dulu, Syekh Zarnuji dalam ta'limnya beliau menganjurkan makan 21 Biji Anggur setiap harinya dan minum madu untuk Menguatkan hafalan. (kalau santri kek kita, Butuh berapa ratus ribu perbulan mah kirimanya🙃)

Sedangkan untuk membina keluarga yang Sejahtera, Syekh Zainudin Al-Malibari dalam fathul mu'inya mewajibkan kepada sang suami memberi Nafaqoh berupa makanan yang enak kepada sang istri (Otomatis kepada anak-anaknya pula lho yaaa, jangan emaknya aja yang dimanja🤗) setidaknya seminggu sekali.

Perkara diatas mempertegas, kesempatan kita kaum milenial untuk berperilaku hidup zuhud itu bisa-bisa saja, dan sangat Posible.

yang penting hati kita termenej dengan baik, dan syarat supaya hati kita baik adalah kurangi perbuatan Maksiat, (Rasan-rasan, nyinyir, julid, ninggal Sholat, ndelok seng ora-ora Dll.)

Tapi masa sekarang untuk tidak maksiat ini sulitnya luar biasa, kita membuka Medsos, halaman pertama saja yang muncul para (mohon maaf) kaum hawa Jingkrak-jingkrak, joget tak jelas main tik-t*kan.

Justru itu malah tantangan bagi Kita kaum milenial, kita menjadi hamba yang Zuhud, benar-benar Zuhud bebarengan dengan cobaan yang menerpa.

Bukan Zuhud karen faktor lingkungan, seperti Zuhud karena hidup di pegunungan, itu sudah hal biasa.

Intinya semua tergantung Hati kita, kita tidak bisa menyalahkan zaman, tidak boleh mengkambing hitamkan lingkungan, tinggal betapa kuat saja kita berusaha.

Sekian, salam hangat dari penulis yang masih berlumuran Dosa ini, semoga gerak-gerik, tindak-tanduk, post, komen, like dan segala ulah kita di Medsos terjaga dari perkara dosa, dan senantiasa mendapat Ridho-NYA.

------
EPILOG
Dari percakapan antara Kiai dan Sanri diatas, jangan sekali-kali kita su'udzon terhadap gaya hidup Kiai Masa Kini, yang kebanyakan sudah memiliki Fasiltas Wah dan Mewah.

Dibalik itu semua mengandung banyak sekali Hikmah, yang bisa kita pelajari.



30/06/20

Jodoh tak akan ketukar☺️😇💙

TAK KAN TERTUKAR — Steemit
Jodoh tak akan ketukar☺️😇💙
Akan ada saatnya seseorang yang telah lama menunggu dipersatukan dengan seseorang yang juga telah lama menunggunya, maka bersabarlah dalam menanti Jodoh. Karena bukan siapa cepat dia dapat. Tetapi siapa taat jodoh dekat.
.
Jodoh kita tak akan tertukar dengan orang lain, orang baik-baik itu jodohnya lama, karena mereka lah orang-orang pilihan, dibandingkan harus terburu-buru dalam menentukan pilihan hingga akhirnya salah memilih.
.
Tidak perlu mencari yang sempurna, tetapi dia yang mampu menyempurnakan kekurangan yang kita miliki, tak perlu yang kaya raya seperti Sulaiman dan Bilqis ataupun Khadijah, tetapi carilah dia yang pandai bersyukur dengan rezeki yang sudah Allah berikan untuk menafkahi rumah tangga dengan halal.
.
Cantik atau tampan itu semua akan datang bersama rasa cinta kita terhadap pasangan nanti.
.
Semua bisa kita beli dengan uang, tetapi yang indah akhlaknya, santun perangai-nya, hanya bisa dimiliki mereka yang memang mau berbenah diri dan memperbaiki akhlak-nya.
.
Kembalikan semuanya kepada pemilik Cinta, Dia-lah yang akan menentukan mana yang terbaik untuk kita.
.
Memberikan seseorang yang mampu menghapus air mata ketika kita menangis, yang akan menyanggah langkah kaki kita ketika lelah untuk berjalan, karena melangkah dan menitih jalan hidup tidak semudah yang direncana manusia.
.
Carilah pasangan hidup yang disaat dia dekat memberikan kita kenyamanan, dan ketika jauh mendatangkan rindu yang begitu dahsyatnya hingga mengantarkan kita ke tepian do’a serta sujud, sebab hati ini percaya bahwa dia kan menjaga cinta dan hati-nya hanya untuk kita.
.
Percayalah penantian dalam taat itu Indah☺️

12/05/20

Menunggu

Menunggu 

“Ketika bicara menunggu, itu bukan tentang berapa jam, hari, dan bulan. Kita bicara tentang titik di mana kita akhirnya memutuskan untuk percaya.” 
dan
 “Aku tidak pernah keberatan menunggu siapa pun berapa lama pun selama aku mencintainya.”

11/05/20

Jangan Sedih – Puasa di Perantauan Mengajarkan Kita Hidup Mandiri




Jangan Sedih – Puasa di Perantauan Mengajarkan Kita Hidup Mandiri
Ilustrasi puasa di perantauan – Apakabar Online

Bagi anak rantau, gak perlu ditanya lagi gimana rasanya menjalani ibadah puasa di perantauan. Tiada kata yang bisa menggambarkan keinginan kita untuk menjalani ibadah puasa bersama sanak saudara terkhusus sama kedua orang tua kita. Bulan puasa tahun ini, kamu yang merantau belum bisa pulang. Tahun ini juga kamu harus rela berpuasa seorang diri. Sebab ada sesuatu hal yang belum bisa kita tinggalkan, seperti pekerjaan atau ujian di bangku perkuliahan.
Sedih jangan ditanya, orang mana yang nggak sedih kalo ia harus menjalani ibadah puasa jauh dari orang tua. Namun bagi kamu yang sedang merasa sedih, lebih baik simpan dulu kesedihan itu. Sebab kamu yang saat ini puasa di perantauan adalah pejuang yang sebenar-benarnya. Nggak percaya? Mari simak 6 hal dibawah ini supaya kamu bisa membuka mata bahwa puasa di perantauan tidak selalu menyedihkan, justru bisa mengajarkan kita sebagai orang yang mandiri.
1. Menjalani puasa di perantauan jauh dari orangtua dan keluarga pasti rasanya berbeda. Namun tahukah kamu kemandirianmu akan terasah dari sana?
Sesaat menjelang bulan ramadhan, mungkin kamu akan membayangi gimana enaknya menjalani puasa bersama orangtua dan keluarga. Sahur dibangunin, membantu ibu nyiapin berbuka puasa, atau ibadah bersama-sama. Namun kali ini momen tersebut agaknya harus kamu tunda atau bahkan nggak ada momen-momen tersebut di bulan ramadhan kamu tahun ini. Karena tuntutan perantauan kamu mau tidak mau harus menjalani puasa jauh dari mereka. Baru dibayangkan saja sudah terasa sesak di dada dan bikin keluar air mata. Perasaan itu bukan tanpa sebab mengingat rasanya ada yang kurang di bulan puasa kali ini.
Walau menjalani puasa di perantauan itu nggak enak rasanya, cobalah ambil sisi positifnya. Kemandirian kamu yang makin hari makin terasah dari sana. Kapan lagi kamu bisa belajar mandiri dari keadaan yang tak menyenangkan. Berpikir positif lah.
2. Meski jauh dari orang-orang tersayang, coba tengok lagi di sekelilingmu. Pasti ada teman yang tidak bisa pulang sama sepertimu
Kalau di pikir-pikir lagi, emang agak miris orang yang jalani puasa jauh dari keluarga. Namun sebelum berkecil hati. Coba tengok lagi orang-orang di sekitar kamu saat ini. Pasti ada seseorang yang jalani puasa jauh dari keluarga sama seperti dirimu. Oleh karena itu, simpan kesedihan kamu dalam-dalam. Kamu tidak benar-benar sendirian saat jalani puasa di perantauan.
3. Telat sahur atau berbuka seadanya mungkin akan kamu alami. Tapi itu pasti akan jadi sebuah pengalaman yang berharga
Saat jalani puasa jauh dari orangtua. Telat sahur adalah sesuatu hal yang biasa bagi kamu. Walaupun udah pasang alarm sepagi mungkin, namun jiwa anak muda yang terbiasa bangun siang hari masih saja membekas ketika kita tidur. Kesedihan makin terasa ketika kita berbuka dengan menu seadanya karena tabungan yang kian menipis.
Jujur aja ketika kita merasakan hal tersebut di bulan puasa itu bikin kita mau meneteskan air mata. Kamu semakin merindukan suasana di rumah dan ingin segera pulang ke kampung halaman. Meski agak miris, tapi anggap saja hal itu sebagai pengalaman berharga untuk dirimu sendiri. Bukankah pengalaman di perantauan itu berharga? Bisa saja pengalaman tersebut menjadi bekalmu di masa yang akan datang dan kelak menjadi cerita yang indah untuk kamu kenang.
4. Rindu itu pasti, namun di bulan ramadhan ini kamu akhirnya bisa menghargai sebuah kebersamaan
Terkadang kamu akan merasa iri ketika melihat orang lain yang memposting unggahan kebahagiaan mereka karena bisa berbuka puasa dan sahur sama keluarganya. Tapi meski merasa sedih, yang terpenting dari itu semua adalah kamu akhirnya mengerti betapa berharganya kebersamaan dengan keluarga. Coba bayangin kalo kamu selalu puasanya di rumah, sama-sama keluarga, mungkin kamu akan jarang menghargai kebersamaan sama mereka. Walaupun merasa sedih, tapi ambilah sisi positif-nya.
5. Jangan takut apalagi bersedih hati. Percayalah, di bulan yang penuh berkah ini kamu selalu bisa mengandalkan diri sendiri
Saat jalani puasa jauh dari orangtua dan keluarga, terkadang kamu akan merasakan kerinduan yang amat mendalam kepada mereka, khususnya rindu masakan ibu di rumah. Tak peduli seenak apapun menu berbuka puasa kamu di perantauan, adakalanya menu tersebut tak nikmat disantap jika tidak dimasak langsung oleh sang ibu. Namun itulah kenyataan yang harus kamu sikapi dengan ikhlas. Percayalah, di bulan yang penuh berkah ini, pasti ada hikmah dari setiap kesedihan yang kamu rasakan.
6. Sebenarnya menjalani puasa di perantuan bukan masalah sama sekali. Malah kamu mungkin akan jadi seorang panutan sejati
Meski sedih karena puasa di perantauan, tapi hal itu bukanlah alasan kamu untuk tidak fokus mengerjakan rutinitas kamu saat ini, apalagi sampai menggangu ibadah kamu untuk mengejar pahala yang tak terbatas pada bulan suci ini. Jadikan bulan ramadhan ini sebagai bulan kamu untuk memperbaiki diri sembari menyelesaikan kewajiban kantor atau kuliah agar kamu bisa cepat-cepat pulang dan bisa jalani puasa bersama orantua dan keluarga.

Buang jauh-jauh pemikiran menjalani puasa di perantauan adalah sesuatu hal yang menyedihkan. Sebab di hari nan fitri nanti. kemenangan yang kamu rasakan tak hanya berjuang melawan hawa nafsu saja namun juga kemenangan karena perjuangan menjalani puasa di perantauan.

05/05/20

Puisi Syukur

Puisi Syukur
By: Ilham Akbar
Kemarin, aku tertawa
Menghirup dan membuang nafas senada
Aku anggap itu biasa
Kemarin, aku berlari
Melangkah diiringi keluh
Inginku terus beristirahat
Kemarin, aku berbaring
Melepaskan segala penat
Sedikit enggan kembali beraktivitas
Tunggu dulu..
Aku sedikit lupa
Tentang nikmat dari siapa yang selalu setia datang
Tentang ketulusan cinta yang menghampiri ditiap detiknya
Bagaimana bisa aku melupakan pemberian dan nikmat dari-Mu?
Bagaimana bisa aku lupa untuk terus bersyukur atas apa yang aku punya?
Bahkan sebenarnya, itu semua hanya kepunyaan-Mu bukan?
Aku baru menyadari
Aku hamba yang tak tahu diri
Disaat anak kecil pun pandai berterima kasih saat diberi gulali,
Lalu aku apa?
Nafas lancar, anggota tubuh lengkap, keluarga lengkap,
Dan juga lengkap dengan dosa karna lupa akan Sang Pemberi Nikmat
Ingatkan aku Tuhan..
Ingatkan aku bahwa itu semua hanya titipan
Sekarang aku semakin sadar
Kemarin aku tak lebih dari si tuli dan si buta
Tak dapat sekedar mendengar indahnya kicauan burung lalu bersyukur
Tak dapat sekedar melihat eloknya bunga bermekaran lalu bersyukur
Iya..
Aku lupa bersyukur!
Yang aku tahu, mau ini, mau itu
Uang, jabatan, kemewahan
Kemana hati ini?
Nampaknya tertukar dengan karang di lautan
Sampai rasa syukurpun tak mampu menembusnya
Namun Tuhan,
Kali ini aku menyaksikan
Karang ini mencair entah kenapa
Aku menangis..
Kau beri aku penerangan
Kau lembutkan kembali kalbuku
Sampai aku sadari, dosaku begitu banyak
Karna lalai atas nikmat yang Kau beri
Tuhan, mulai dari tulisan ini aku buat..
Aku akan mencoba menjadi hamba yang bersyukur
Aku akan mencoba menelan nasi bahkan tanpa lauk
Aku akan mencoba berjalan kaki bahkan saat sendalku putus
Aku akan mencoba tertidur walau hanya beralaskan tanah
Ya, aku mencoba menjaga titipan-Mu
Aku akan mencoba bersyukur lalu berbahagia.

03/05/20

LANGIT SURGA KU



ILHAM AKBAR
Langit Surga Ku

Dalam embun kerinduan
Menetes sudah harapan
Jatuh kebumi menyisakan segenggam kekuatan


Menggores gores kebohongan
Memuntah muntah kemunafikan
Tersayat sayat keindahan
Melukai jiwa

Mengapung apung kepastian
Menjelma jelma kegalisahan
Terombang ambing kerinduan
Melukai Jiwa

Fase fase hidupan
langkah yang terjengkal
adakah surat kebahagian untukku
jiwa yang luka
Secarik harap, tersobek
bakar apa apa yang dinanti.
baui napas sengal
manakah langit surga itu,

Garukan tawa
Nyanyian Belatung
Menggoreng sudah pojok hati.

Serai serai senyummu tak dapat kujumpa,
Kunci kunci gerikmu tak membayang
manakah langit surga itu

Langit surgaku yang utama
tertinggi dalam parodi
cukup puaskah kau.

Menginpirasi entri jiwa yang sakit
Membunuh sajak-sajak cinta
Melebelkan puisiku

Langit Surgaku
Kau bukanlah yang utama


INDUSTRIALIASI PENDIDIKAN TINGGI: BAGAIMANA NASIB PRODI ILMU KEAGAMAAN?

Oleh: Dr. Kholili Hasib Dipublikasikan ulang oleh: Ilham Akbar, M.Pd. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti sainte...