30/04/26

INDUSTRIALIASI PENDIDIKAN TINGGI: BAGAIMANA NASIB PRODI ILMU KEAGAMAAN?

Oleh: Dr. Kholili Hasib

Dipublikasikan ulang oleh: Ilham Akbar, M.Pd.

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti saintek) mengungkapkan rencana untuk menutup program studi (prodi) di perguruan tinggi yang tidak relevan dengan kebutuhan kehidupan dunia di masa depan. "Nanti mungkin ada beberapa hal yang harus kami eksekusi dalam waktu yang tidak terlalu lama terkait dengan prodi-prodi perlu kita pilih, kita pilah, dan kalau perlu ditutup, untuk bisa meningkatkan relevansi ini," ujar Sekjen Kemdiktisaintek, Badri Munir Sukoco dalam Simposium Nasional Kependudukan Tahun 2026, Kamis (23/4/2026).

Rencana menutup beberapa program studi yang tidak relevan dengan dunia kerja seharusnya tidak dibaca sebagai kebijakan teknokratis biasa. Ia adalah sinyal keras tentang arah baru pendidikan tinggi: kampus didorong menjadi pabrik tenaga kerja. Ukuran keberhasilan tidak lagi pada kedalaman ilmu, melainkan pada seberapa cepat lulusannya terserap pasar. Dalam logika ini, ilmu ke depan akan kehilangan martabatnya sebagai jalan pencarian kebenaran, dan direduksi menjadi alat produksi.

Pertanyaannya sederhana namun mendasar: apakah semua ilmu harus tunduk pada logika pasar? Bagaimana dengan ilmu-ilmu keagamaan?

Secara sederhana, tentu saja paradigma ilmu sains terapan dan teknik tidak sama dengan paradigma ilmu keagamaan. Oleh sebab itu, prodi ilmu keagamaan tidak semesetinya nanti tidak dipandang seperti cara pandangan Kemendikti saintek. Paradigma, filosofi, tujuan dan kebutuhan ilmu-ilmu keagamaan berbeda dengan sains terapan dan teknik.

Tapi penggiat ilmu-ilmu keagamaan dan ilmu sosial patut resah dan khawatir. Saat ini kita itu sedang menyaksikan perlahan-lahan penghapusan disiplin ilmu yang tidak “laku dijual”. Ilmu-ilmu keagamaan seperti filsafat Islam, sejarah Islam, tasawuf, ilmu tafsir, ilmu hadis, dan syariah tidak menutup kemungkinan akan menjadi “korban”. 

Beberapa waktu lalu sebuah kampus Islam negeri kesulitan mencari mahasiswa prodi sejarah Islam. Sepi peminat ini karena calon mahasiswa sejarah termakan isu bahwa sarjana sejarah tidak prospek di dunia kerja. Sejak lama, program studi ini memang sepi peminat. Bahkan telah diakui bahwa minat mahasiswa terhadap prodi menurun, sementara kebutuhan terhadap ahli di bidang tersebut justru tetap tinggi. Di sinilah paradoks itu nyata: yang dibutuhkan umat tidak selalu identik dengan yang dibutuhkan pasar.

Padahal, sarjana ilmu sejarah mampu menjadi orang baik di tempat manapun. Tidak harus menjadi karyawan di musium. Prof. Syed M Naquib al-Attas bahkan pernah berceramah, mempelajari ilmu sejarah Islam di Melayu-Nusantara ini wajib bagi semua pelajar. 

Lulusan IPB Bogor tidak semua jadi petani atau karyawan di kantor pertanian. Malah banyak yang menjadi jurnalis, CEO, kepala sekolah, pengusaha, karyawan Bank. Memang bagus bekerja sesuai dengan ijazah prodinya. Namun tidak semestinya dibatasi dan membatasi.

Transformasi IAIN menjadi UIN beberapa waktu belakangan bisa mempercepat pergeseran orientasi ini. Kampus Islam berlomba membuka program studi “favorit”: manajemen, kesehatan, teknologi, dan sejenisnya. Data penerimaan mahasiswa memperlihatkan dengan jelas ke mana arah minat itu bergerak. Sementara itu, filsafa, sejarah, ilmu hadis, ilmu tafsir terpinggirkan. Ketika angka peminat dijadikan dasar legitimasi, maka nasib ilmu ditentukan oleh statistik, bukan oleh nilai dan urgensinya.

Proyek “integrasi ilmu” yang selama ini digembar-gemborkan pun tampak belum menyentuh akar persoalan. Ia gagal mengangkat kembali martabat ilmu-ilmu keagamaan. Sebab problemnya bukan sekadar integrasi kurikulum, melainkan dominasi paradigma. Selama pendidikan dipaksa tunduk pada kebutuhan industri, maka disiplin ilmu yang tidak memiliki output ekonomi langsung akan selalu dianggap beban.

Pertanyaan “lulusan bekerja di mana?” menjadi semacam mantra yang menentukan hidup-mati sebuah program studi. Seolah-olah nilai sebuah ilmu hanya sah jika bisa dikonversi menjadi profesi dengan gaji bulanan. Dalam kerangka ini, siapa yang akan mempertahankan ilmu yang berfungsi menjaga akidah, membentuk cara pandang, dan merawat tradisi intelektual umat?

Di titik ini, kita perlu keberanian untuk mengatakan: ada yang keliru dalam arah kebijakan pendidikan kita.

Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud telah lama mengingatkan bahwa universitas modern cenderung menjadi institusi pragmatis yang melayani kepentingan ekonomi. Jika dibiarkan, kampus tidak lagi melahirkan ilmuwan, melainkan karyawan. Kita mungkin akan memiliki banyak pekerja, tetapi kehilangan pemikir. Banyak profesional, tetapi miskin ulama dan cendekiawan.

Padahal dalam tradisi Islam, tujuan pendidikan jauh lebih tinggi. Syed Muhammad Naquib al-Attas menegaskan bahwa pendidikan adalah proses penanaman adab membentuk manusia yang baik, bukan sekadar manusia yang bekerja. Ilmu-ilmu keagamaan berada di jantung proses ini. Ia bukan pelengkap, melainkan fondasi.

Menariknya, di tengah arus besar industrialisasi pendidikan, pesantren justru menunjukkan daya tahannya. Perguruan tinggi berbasis pesantren tidak sepenuhnya tunduk pada logika pasar. Santri tidak selalu bertanya, “nanti saya kerja di mana?” Mereka lebih akrab dengan pertanyaan, “ilmu ini membawa saya ke mana di hadapan Allah?” Cara pandang ini mungkin dianggap tidak “produktif” secara ekonomi, tetapi justru menyelamatkan makna pendidikan itu sendiri.

Namun, bukan berarti pesantren bebas dari ancaman. Ketika tekanan kebijakan semakin kuat, bukan tidak mungkin lembaga-lembaga ini pun dipaksa menyesuaikan diri. Jika itu terjadi, maka kita tidak hanya kehilangan program studi, tetapi kehilangan arah peradaban.

Karena itu, wacana penutupan program studi harus dilihat lebih dalam dari sekadar efisiensi. Ini adalah pertarungan antara dua cara pandang: pendidikan sebagai jalan pembentukan manusia, atau pendidikan sebagai mesin produksi tenaga kerja. Jika yang kedua menang sepenuhnya, maka bersiaplah kampus akan ramai, tetapi sunyi dari makna. Keduanya harus didamaikan. Tidak saling menegasikan.

Dan ketika ilmu-ilmu keagamaan benar-benar hilang dari kampus, pertanyaan yang tersisa bukan lagi “lulusan bekerja di mana?”, tetapi “siapa yang akan menjaga arah berpikir umat?”

28/04/26

Kisah Kopyah Kyai As'ad Tak Mempan Dibom

KHR. As’ad Syamsul Arifin bukan merupakan sosok kyai yang biasa-biasa saja, beliau memiliki karomah yang sangat luar biasa. Tak jarang karomah beliau dilihat langsung oleh santri atau orang yang sedang berada di dekat beliau.terdapat kisah menarik yang menceritakan tentang hebatnya karomah KHR. As’ad Syamsul Arifin.


Saat itu agresi militer sekutu kembali datang ke Indonesia, kali ini mereka sudah menyiapkan titik-titik strategis untuk diserang. Mengingat bahwa Indonesia memiliki kyai-kyai sakti yang menjadi penghalang lajunya kolonialisasi, sehingga para penjajah mengincar titik-titik sentral pondok pesantren. Ssalah satu titiknya adalah daerah Tapal Kuda Situbondo dan targetnya yakni pesantren asuhan KHR. As'ad Syamsul Arifin.


Kala itu banyak pesawat Belanda mondar-mandir di udara mencari letak pesantren asuhan kyai As'ad. Namun, kyai As’ad menyembunyikan keberadaan pesantren dengan wasilah menaruh kopyah beliau di pelataran halaman pesantren, serta menyuruh santrinya untuk memagari pesantren dengan benang. Kopyah dan benang tersebut sebelumnya telah dibacakan hizib oleh Kyai As'ad yang mendengar kabar kembalinya sekutu ke Indonesia. Walhasil pesawat Belanda tidak dapat menemukan keberadaan pesantren kyai As'ad dan tank-tank Belanda tidak bisa mendeteksi keberadaan dimana pesantren tersebut berada.


Di hari selanjutnya, kyai As’ad menyuruh seorang santri untuk meletakkan kopyah beliau di tengah hutan. Karena ini perintah kyai, santri tersebut membawa kopyah dan meletakannya di tengah hutan sesuai perintah kyai As'ad. Saat pesawat tempur Belanda kembali melacak keberadaan pesantren kyai As'ad, akhirnya mereka menemukan bangunan yang mirip dengan pesantren besar di tengah-tengah hutan yang dilalui pesawat Belanda. Akhirnya, mereka membombardir pesantren tersebut sampai rata dengan tanah.


Keesokan harinya, kyai As'ad memerintah santri yang sama untuk mengambil kopyah yang ia letakkan kemarin. Sesampainya ia di tengah hutan, santri tersebut kaget bukan kepalang menemukan tengah-tengah hutan yang hancur lebur akibat bom bardir pesawat belanda. Kagetnya bertambah saat menemukan kopyah kyai As'ad masih utuh tanpa penyok/rusak sedikitpun.


Melalui kisah ini kita dapat belajar bahwa para ulama' dan kyai berjuang mendirikan bangsa ini bukan hanya berbekal logistik, pikiran dan kekuatan fisik. Akan tetapi juga disertai mujahadah pada Allah baik melalui tirakat berpuasa maupun amalan wirid dan hizib. Semoga kita dapat belajar serta meneruskan tradisi para ulama' dan kyai-kyai pendahulu kita. Aamiin

Wallahu A'lam bishowab.


Sumber Cerita disadur dari kyai Mun'im DZ

06/04/26

Alasan Kenapa Faktor Tidur Jadi Penentu Nomor Satu Kecerdasan Anak, Bukan Les Tambahan

Banyak orang tua modern terjebak dalam perlombaan mengisi jadwal anak dengan les matematika, bahasa asing, hingga koding, namun abai terhadap satu variabel yang paling krusial: durasi dan kualitas tidur. Kita sering menganggap tidur hanyalah waktu istirahat pasif, padahal bagi otak anak yang sedang berkembang, tidur adalah "laboratorium kognitif" di mana semua informasi yang dipelajari di tempat les diproses, disaring, dan dikunci ke dalam memori jangka panjang.

Memaksa anak belajar hingga malam dan bangun terlalu pagi untuk les tambahan sebenarnya adalah tindakan kontraproduktif yang merusak sirkuit saraf. Tanpa tidur yang cukup, investasi jutaan rupiah untuk les tambahan hanya akan menguap begitu saja karena otak anak kehilangan kemampuan untuk menyerapnya.

Berikut adalah 7 alasan ilmiah kenapa tidur adalah penentu utama kecerdasan anak melampaui kursus apa pun:

1. Proses Konsolidasi Memori (Penyimpanan Data)

Saat anak tidur, otak melakukan proses yang disebut konsolidasi memori. Informasi yang diterima saat les siang hari (memori jangka pendek) dipindahkan ke neocortex (memori jangka panjang). Jika anak kurang tidur, "jalur pemindahan" ini terputus. Akibatnya, materi sesulit apa pun yang dipelajari di tempat les tidak akan menetap di otak; mereka hanya akan menghafal untuk sesaat lalu lupa esok harinya.

2. Pembersihan "Sampah" Otak (Sistem Glimfatik)

Selama tidur, sistem glimfatik di otak bekerja 10 kali lebih aktif untuk membuang protein racun dan sisa metabolisme yang menumpuk selama anak beraktivitas. Jika anak kurang tidur, "sampah" ini menumpuk dan menciptakan kabut otak (brain fog). Anak yang otaknya "kotor" akan lambat dalam berpikir, sulit menangkap instruksi, dan memiliki daya konsentrasi yang sangat rendah sekeras apa pun mereka mencoba belajar.

3. Neurogenesis dan Plastisitas Otak

Tidur adalah waktu utama bagi otak untuk memproduksi sel saraf baru (neurogenesis) dan memperkuat koneksi antar sinapsis. Otak anak sangat plastis, artinya ia bisa dibentuk. Namun, pembentukan sirkuit kecerdasan ini hanya terjadi secara optimal saat fase tidur dalam (deep sleep). Kurang tidur membuat otak menjadi kaku, sehingga anak sulit mempelajari keterampilan baru atau beradaptasi dengan materi pelajaran yang lebih kompleks.

4. Aktivasi "Prefrontal Cortex" (Pusat Logika)

Area otak yang paling terdampak oleh kurang tidur adalah prefrontal cortex, bagian yang bertanggung jawab atas fungsi eksekutif: pemecahan masalah, perencanaan, dan kontrol emosi. Anak yang kurang tidur akan lebih impulsif, mudah menyerah saat menghadapi soal sulit, dan sulit fokus. Les tambahan tidak akan berguna jika mesin utama pengolah logikanya sedang dalam kondisi "low battery".

5. Hubungan Antara Tidur dan Kreativitas

Dalam fase tidur REM (Rapid Eye Movement), otak melakukan asosiasi ide secara acak dan kreatif. Di sinilah kemampuan berpikir out-of-the-box terbentuk. Anak yang cukup tidur cenderung lebih solutif dalam menghadapi tantangan. Sebaliknya, anak yang hanya difokuskan pada les tanpa tidur cukup akan tumbuh menjadi "penghafal" yang kaku, bukan inovator yang kreatif.

6. Regulasi Hormon Pertumbuhan (HGH)

Hormon pertumbuhan (Human Growth Hormone) dilepaskan secara maksimal saat anak tidur nyenyak. Hormon ini tidak hanya berpengaruh pada tinggi badan, tapi juga pada perkembangan fisik otak. Perkembangan otak yang terhambat secara fisik akibat kurang tidur akan membatasi kapasitas kognitif anak secara permanen, sesuatu yang tidak bisa diperbaiki hanya dengan menambah jam les di akhir pekan.

7. Keseimbangan Emosi sebagai Dasar Belajar

Anak yang cukup tidur memiliki stabilitas emosi yang lebih baik. Belajar membutuhkan rasa aman dan ketenangan. Saat anak lelah karena kurang tidur, mereka lebih mudah cemas dan stres. Dalam kondisi stres, otak melepaskan kortisol yang justru merusak sel-sel di hippocampus (pusat memori). Jadi, kurang tidur bukan hanya menghambat belajar, tapi secara aktif "merusak" perangkat keras memori anak.

"Tidur bukan sekadar jeda dari aktivitas, melainkan fondasi biologis tempat kecerdasan dibangun. Jangan menukar masa depan intelektual anak hanya demi satu jam tambahan di kelas bimbingan belajar."

Apakah kamu merasa selama ini jadwal les anak sudah mulai menggerus waktu istirahat mereka, atau kamu punya aturan ketat soal jam tidur di rumah?

INDUSTRIALIASI PENDIDIKAN TINGGI: BAGAIMANA NASIB PRODI ILMU KEAGAMAAN?

Oleh: Dr. Kholili Hasib Dipublikasikan ulang oleh: Ilham Akbar, M.Pd. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti sainte...