21/06/22

Terlalu Pengecut, Tak Pernah Sanggup Melupakan Saat Luka Telah Berserakan


Saat aku tahu bahwa kau tak lagi memberikan rasamu padaku, sejak saat itu pula aku memutuskan untuk berhenti mencari tahu tentangmu.

Namun, hati ini seperti memaksaku untuk terus bertahan dalam sebuah ketidakpastian akan hubungan yang cukup lama kita jalani berdua.

Terkadang, aku mengutuk diriku sebab masih menyimpan seribu harap padamu. Tetapi di sisi lain, aku masih saja melakukan hal itu.

Aku mencoba belajar mem b e n c i, tetapi sia-sia. Lalu kucoba mengingat-ingat kembali jenis-jenis luka yang kau suguhkan tempo hari, tetap saja tak berguna.

Hatiku masih seutuhnya milikmu, meski sudah banyak goresan bekas luka lama yang tak kunjung pulih dan sakitnya masih belum reda.

Kau terlalu hebat, membuatku mencintaimu dengan segala ke b o d o h a n ku yang selalu merasa baik-baik saja, ketika dengan sangat sengaja kau patahkan beberapa bagian hingga menjadi sekecil-kecilnya.

Atau mungkin karena aku, yang terlalu pengecut untuk meninggalkan dan membiarkan dia menjadikanmu seorang ratu selayaknya yang pernah kulakukan dahulu.
_____________________________

IAPW, 21 Juni 2016  

Tidak ada komentar:

Merajut Sejarah (Napak Tilas Berdirinya NU)

Rinai hujan masih turun cukup deras saat rombongan besar itu tiba di Ndalem Kasepuhan, Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Rumah sederhana ...