03/06/22

Kau Perempuan Terhebat

 

Kau Perempuan Terhebat

Senyummu menggetarkan dunia

Bagai bara yang luluhkan besi

Kau mahluk tuhan yang unik penuh misteri

Cantik, menarik, anggun rupawan, menawan

 

Kau diukir dari tulang rusuk Adam (konon katanya)

Begitu hebatnya dirimu

Air matamu air mata suci

Kelembutanmu seperti sutera

Kasih sayngmu melebihi samudra

Cinta kasihmu taka da hijam yang membatasi

 

Kau bukan ibu raden ajeng kartini

Kau bukan cut nyak dien

Tapi kau wanita yang hebat

Wanita yang kuat

Wanita tangguh

Kau wanita Indonesia

Wanita yang sangat mulia                                                            

Wanita penuh dedikasi

 

Otot bukan senjatamu

Pedang bukan sifatmu

Cinta, kasih sayanglah senjata terdahsyatmu

Itulah jiwa dan hatimu

 

Kau genggam dunia dengan senyummu

Kau rangkul ngarai dengan kebajikan

Kau kepal samudra dengan kelembutan

Kaulah perempuan terhebat

#29 Mei 2022

Tentang Penulis

Ilham Akbar, laki-laki pesantren pengagum malam dan semesta. Saat ini sedang dalam proses menerbitkan beberapa antologi. Jejaknya bisa dilacak di akun Instagram ; IlhamAkbar3107 atau Facebook ; Ilham Akbar Pratama Wijaya. Kicauannya kadang terselip di akun blogernya :ilhamakbar031097.blogspot.com

 

AGAR ANAK BETAH DI PONDOK PESANTREN


 AGAR ANAK BETAH DI PONDOK PESANTREN

Salah satu cara agar anak mendapat pendidikan agama dengan intensif dan baik adalah dengan memasukannya ke pondok pesantren. Namun, tak sedikit anak yang tak betah ketika mondok. Berikut beberapa tips yang harus dilakukan orang tua, agar anak betah. Semoga cocok untuk Anda dan si buah hati.

Pertama, tumbuhkan kesadaran pada anak mengapa dirinya masuk pesantren. Jauh hari sebelum hari H, bahkan satu dua tahun sebelum anak dimasukan ke pesantren, tumbuhkanlah kesadaran kepada anak mengapa dirinya harus masuk pesantren. Sehingga anak sadar, bahwa pesantren adalah pilihan yang tepat untuk memperdalam agama secara intensif dan baik. Masuk ponpes bukan untuk liburan atau berleha-leha. Jadi, tidak timbul perasaan yang tidak-tidak pada diri anak, seperti merasa dibuang atau dikucilkan oleh keluarga serta siap mental dengan fasilitas yang minim.

Kedua, orang tua harus benar-benar merelakan anaknya mondok dan jauh dari orang tua. Sehingga saat hari H melepas anak masuk pesantren, yang terlihat adalah wajah ceria dan senyuman orang tua. Insyaallah, anak akan lebih cepat betah di pondok. Sebaliknya, rasa berat hati yang tercermin dari raut muka dan air mata orang tua saat perpisahan itulah yang membuat anak jadi tidak betah. Karena wajah terakhir saat perpisahanlah yang akan terus terbayang di benak anak sampai akhirnya berjumpa kembali.

Ketiga, semangati dan berikanlah hikmah setiap masalah yang dicurhatkan anak. Bulan-bulan awal bahkan setahun pertama, anak tentu saja akan merasa berat tinggal di pesantren karena aturan dan kebiasaan yang berbeda 180 derajat dengan di rumah. Maka, setiap menengok atau ada kesempatan berkomunikasi, semangatilah terus agar anak tetap betah. Dan berilah hikmah setiap masalah yang dicurhatkan anak.

Misal, dengan kebiasaan cuci baju sendiri, bangun jam 3 pagi, jadwal makan yang ketat sekali, dan berbagai keprihatinan lain yang dirasakan anak, sampaikanlah bahwa itu semua merupakan tempaan agar mental sang anak jadi kuat dan bisa hidup mandiri. Mental yang kuat dan hidup mandiri itu sangat diperlukan saat dirinya dewasa kelak. Karena kehidupan di masa depan lebih berat lagi.

Keempat, tunjukkan rasa bangga. Setiap menjenguk, jangan lupa tunjukkan rasa bangga orang tua kepada anak yang masih bertahan di pondok. Apalagi ketika anak menunjukkan prestasinya, rasa bangga harus lebih ditunjukkan lagi.

Kelima, jangan sering menengok atau berkomunikasi dengan anak. Setiap kangen, baiknya banyak-banyak mendoakan saja, jangan sering-sering menengok atau berkomunikasi dengan anak. Karena kalau terlalu sering ditengok atau ditelepon, dikhawatirkan anak akan sulit betah di pondok dan menjadi sangat merindukan suasana di rumah.

Semoga tips di atas cocok untuk Anda dan si buah hati. Selamat mencoba. Semoga anak-anak kita menjadi anak-anak yang paham agama dan mengamalkannya dengan baik dan menjadi ladang pahala jariah kita. Aamiin.[]

#Ilham Akbar, S.Pd

 

09/05/22

Surat Cinta untuk Perempuan


Surat Cinta untuk Perempuan.

Adalah seorang perempuan dengan kepak sayap bidadari bertelapak kaki surga. Dari rahimnya lahir kehidupan-kehidupan baru. Ia perempuan yang mampu mempertaruhkan banyak hal; kecantikan, kebebasan dan ketenaran demi anaknya terurus dengan baik. Kandungannya adalah rumah ternyaman, dan buah dadanya mengalirkan sumber kehidupan. Nyawanya ia pertaruhkan demi memastikan lahirnya kehidupan baru.

Sembilan bulan adalah waktu yang cukup lama dengan penderitaan yang sangat panjang. Tubuhnya adalah tubuh kemulian yang melahirkan orang-orang hebat. Ia menyulam tangis menjadi tawa, derita menjadi suka cita, dalam pelukannya ada cinta yang tak mampu didefinisikan, dialah kesempurnaan cinta dan dialah keseriusan perjuangan.

Inilah pembuktian hebatnya cinta seorang perempuan. Ia diberi cinta, ia akan mengembalikannya berkali-kali lipat lebih besar, ia diberi ketulusan, maka hidupnya akan didedikasikan seutuhnya untukmu, ia diberi benih, maka ia akan melahirkan kehidupan.

"Salam hormat untuk kalian wanita-wanita perkasa yang sudah sangat berjasa menghadirkan kehidupan-kedupan baru."

Seribu puisi indah tak akan mampu mendefinisikan besarnya cinta kalian. Terima kasih sudah menjadi pelengkap dan bagian dari tulang dan daging kami.

 

_Ilham Akbar PW_

Sukorejo, 10 Mei 2022

 

Kelak

 

Kelak

Entah berapa penantian lagi
Semoga puisi-puisiku sampai di rumahmu dengan selamat
Puisi yang kutulis dengan serabutan ini

Semoga kelak kau menyukainya

Semoga kelak kau juga bisa mengenalnya

Dari doa-doaku yang panjang
Ada kiranya aku bertanya kepada Tuhan
Bagaimana sebuah takdir bekerja? 
Jika setiap bahagia harus dibayar dengan pengorbanan
Lalu, apakah setiap cinta harus pula dibayar dengan sebuah kehilangan?

#Ilham Akbar P.W#

24/04/22

Apa Kabar, Tanah Tumpah Darahku?

 

Apa Kabar, Tanah Tumpah Darahku?

Ku tahu usiamu kini tak lagi muda

Sudah cukup lama kau melangkah

Menuju nusantara yang sempurna

 

Apa kabar, wahai tanah tumpah darahku?

Ku tahu sektor-sektor penghasil uang banyak berdiri di atas tanahmu

Hamparan persawahan nan hijau

Biru laut sejauh mata memandang

Langit yang ramai dengan lalu lintas penerbangan

Dan ku tahu itu semua adalah uang

Masihkah selalu berputar di tangan orang-orang bejat?

Tanpa mengalir pada kehidupan rakyat?

 

Apa kabar, wahai tanah tumpah darahku?

Sudah baikkah kau mendidik generasimu

Tak jarang kutemui banyak di antara mereka

Yang hingga meronta-ronta agar mengenyam sekolah

Sekolah yang berdiri megah di atas kuasa tanganmu

Sudah benarkah moral yang kau tanamkan?

Sebab yanga ku tahu, hanya sekedar hormat

Bukan akhlak

 

Apa kabar, wahai tanah tumpah darahku?

Orang-orang yang kutanya hebat duduk berbaris rapi

Merapatkan perihal Indonesia di masa mendatang

Tapi yang ku tahu kebanyakan, hasilnya

Program-program tak terjalankan

Aku tahu politik itu bejat dan koruptor itu pengkhianat

Kerena merekalah yang berbaik hati mengajarkan

Aku tahu demokrasi dan pancasila tak diamalkan dengan benar

Karena mereka dengan secara jelas melakukan dihadapan.

 

Apa kabar, wahai tanah tumpah darahku?

Yang ku tahu kau punya keunikan diri sendiri

Seni selalu mengalir dalam tubuhmu tanpa henti

Tari-tarianmu tak pernah mati

Sekalipun majemuk, kau mampu mengatasi

Bersatu dalam satu pentas; Budaya Indonesia

Kini, masih utuhkah warisan leluhur yang kau miliki?

 

Apa kabar, wahai tanah tumpah darahku?

Kuingat sebuah lagu, “Dari Sabang Sampai Merauke”

Dikatakan kau punya banyak gugusan pulau

Sambung-menyambung rapi berjajar

Menjadikan ketertarikan walau sekedar mengunjungi

Pesona alam berjuluk surga dunia

Semaki menguatkan keyakinanku bahwa kau memang indah

Tapi, kenapa tak benar-benar kau nikmati?

 

Apa kabar, wahai tanah tumpah darahku?

Tanamkan dalam dada generasimu

Patriotisme dan solidaritas nyata

Agar kelak jika kau kembali bertanya padamu

Kau menjawab gagah, “Aku jauh lebih baik sekarang.”


 Ilham Akbar, 25 Desember, 2020

17/03/22

Seekor ikan bertanya kepada kura-kura?

Seekor ikan bertanya kepada kura-kura?



"Mengapa setiap kali kamu mengalami masalah selalu bersembunyi, masuk ke dalam cangkangmu...?"

Kura-kura menjawab :

“Apa penting pertanyaan itu aku jawab ?”

Ikan berkata :

“Semua mahluk di perairan ini mempertanyakan sifat-mu yang selalu bersembunyi jika ada masalah!"

Kura-kura berkata :

"Komentar orang lain apakah penting...?

Aku tidak menghindar,

Aku tidak lari dari kenyataan,

Aku hanya mencari suasana yang lebih damai di dalam cangkangku."

Ikan bertanya lagi :

"Tetapi apakah kamu tidak peduli selalu jadi bahan pembicaraan?"

Kura-kura menjawab :

"Inilah alasan mengapa aku lebih panjang umur dari pada kalian.

Kalian terlalu sibuk mengurusi kehidupanku sampai kalian lupa siapa diri kalian,

Kalian terlalu sibuk memperhatikan diriku sampai kalian lupa siapa diri kalian."

"Dalam hidup ini kita sendiri yang menentukan pilihan,

berbuat-lah yang terbaik

dan biarkan-lah orang lain mau berkomentar apapun".

"Orang yang menyukaimu tetap akan membenarkan-mu sekalipun kamu keliru,"

Sebaliknya

"Orang yang membencimu selalu akan menyalahkanmu sekalipun kamu benar."

"Berapa banyak waktumu terbuang hanya untuk mengurusi kehidupan orang lain sehingga ...

kamu lupa pada dirimu sendiri kapan harus makan dan istirahat"

"Sayangi dirimu dengan lebih peduli pada urusanmu sendiri sebab,

Engkau akan menjadi orang yang selalu kekurangan saat kamu selalu ingin tau urusan orang lain".

Semoga kita jangan terkecoh dengan apa yang orang katakan, Jadilah diri kita sendiri,

Jadi-lah pribadi yang baik....

Dan terus meneruslah berbuat baik .. 😎


15/03/22

KEMULIAAN MENUTUP AIB

 KEMULIAAN MENUTUP AIB

Sekelompok anak muda menghadiri resepsi pernikahan. Salah seorang di antaranya melihat guru SMA-nya.
Murid itu menyalami gurunya dengan penuh penghormatan, seraya berkata:
"Masih ingat saya kan, pak guru?”
Gurunya menjawab, “wah maaf, tidak tuh."
Murid itu bertanya keheranan, "Masa sih, pak guru tidak ingat saya."
"Saya kan... murid yang dulu mencuri jam tangan punya salah seorang teman di kelas."
"Ketika anak yang kehilangan jam itu menangis, pak guru menyuruh kita untuk berdiri semua, karena akan dilakukan penggeledahan saku murid semuanya."
"Saat itu saya berfikir, bahwa saya akan dipermalukan dihadapan para murid dan para guru, dan akan menjadi tumpahan ejekan dan hinaan, mereka akan memberikan gelar kepada saya: "pencuri" dan harga diri saya pasti akan hancur, selama hidup saya."
"Bapak menyuruh kami berdiri menghadap tembok dan menutup mata kami semua."
"Bapak menggeledah kantong kami, dan ketika tiba giliran saya, Bapak ambil jam tangan itu dari kantong saya, dan Bapak lanjutkan penggeledahan sampai murid terakhir."
"Setelah selesai, Pak guru menyuruh kami membuka penutup mata, dan kembali ke tempat duduk masing-masing."
"Saya takut Bapak akan mempermalukan saya di depan murid murid lain yang semuanya teman teman saya."
"Bapak tunjukkan jam tangan itu dan Bapak berikan kepada pemiliknya, tanpa menyebutkan siapa yang mencurinya."
"Selama saya belajar di sekolah itu, Bapak tidak pernah bicara sepatah kata pun tentang kasus jam tangan itu, dan tidak ada seorang pun guru maupun murid yang bicara tentang pencurian jam tangan itu."
"Bapak masih ingat saya kan pak?"
"Bagaimana mungkin Bapak tidak mengingat saya??"
"Saya adalah murid Bapak, dan cerita itu adalah cerita pedih yang tak akan terlupakan selama hidup saya."
"Saya sangat mengagumi Bapak. Sejak peristiwa itu saya berubah menjadi orang yang baik dan benar hingga sekarang saya jadi orang sukses.
Saya mencontoh semua akhlak dan sikap, juga perilaku Bapak."
Sang Guru itu pun menjawab,
"Sungguh aku tidak mengingatmu, karena pada saat menggeledah itu, aku sengaja menutup mataku, agar aku tidak mengenalmu."
"Karena aku tidak mau merasa kecewa atas perbuatan salah satu muridku, aku sangat mencintai semua murid-muridku..."

12/03/22

Rindu

 


Rindu tlah membius separuh logikaku. 

Memeluk,merasuk,tanpa malu malu.

Hanya dalam sujudku 

aku memohon rindu menjelma menjadi kamu

09/03/22

Shalat Istikharah

 Keutamaan Shalat Istikharah

Keutamaan sholat istikharah mampu menenangkan hati dan pikiran seperti disebutkan dalam surah Al-Baqarah ayat 206 yang berbunyi :

 

Ùƒُتِبَ عَÙ„َÙŠْÙƒُÙ…ُ الْÙ‚ِتَالُ ÙˆَÙ‡ُÙˆَ ÙƒُرْÙ‡ٌ Ù„َّÙƒُÙ…ْ ۚ ÙˆَعَسٰٓÙ‰ اَÙ†ْ تَÙƒْرَÙ‡ُÙˆْا Ø´َÙŠْÙ€ًٔا ÙˆَّÙ‡ُÙˆَ Ø®َÙŠْرٌ Ù„َّÙƒُÙ…ْ ۚ ÙˆَعَسٰٓÙ‰ اَÙ†ْ تُØ­ِبُّÙˆْا Ø´َÙŠْÙ€ًٔا ÙˆَّÙ‡ُÙˆَ Ø´َرٌّ Ù„َّÙƒُÙ…ْ ۗ ÙˆَاللّٰÙ‡ُ ÙŠَعْÙ„َÙ…ُ ÙˆَاَÙ†ْتُÙ…ْ Ù„َا تَعْÙ„َÙ…ُÙˆْÙ†َ

Artinya,

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. Al-Baqarah : 116)

Dalam ayat diatas menjelaskan bahwa sesuatu yang baik menurut manusia belum tentu baik menurut Allah dan sesuatu yang baik menurut Allah sudah pasti baik bagi manusia, meskipun kebaikannya belum atau bahkan tidak dirasakan.

Nyatanya, seringkali terjadi dalam hidup sesuatu yang dianggap buruk justru memberi dampak baik bagi manusia begitu sebaliknya. Kebaikan tidak bisa diukur dengan akal manusia yang terbatas, itulah kuasa Allah swt.

Jangan pernah merasa cukup menjadi manusia baik, karena pada akhirnya kita tidak pernah tahu kebaikan yang kita semai kapan akan bisa dituai, bahkan kebaikan tidak selalu soal diri sendiri tapi juga bisa orang lain yang merasakan. Kebaikan adalah projek jangka Panjang sesuatu dari Allah.


Waktu yang Baik untuk Sholat Istikharah

Menurut Syaikh Wahbah disunnahkan membaca surat Al Kafirun setelah membaca surat Al-Fatihah pada rakaat pertama. Setelah itu, membaca surat Al-Ikhlas setelah membaca surat Al-Fatihah pada rakaat kedua. Berikut cara sholat istikharah:

1. Niat

2. Takbiratul ihram, diikuti dengan doa iftitah

3. Membaca surat Al Fatihah

4. Membaca surat dari Alquran, diutamakan Surat Al Kafirun

5. Ruku’ dengan tuma’ninah

6. I’tidal dengan tuma’ninah

7. Sujud dengan tuma’ninah

8. Duduk di antara dua sujud dengan tuma’ninah

9. Sujud kedua dengan tuma’ninah

10. Berdiri lagi untuk menunaikan rakaat kedua

11. Membaca surat Al Fatihah

12. Membaca surat dari Alquran, diutamakan Surat Al Ikhlas

13. Ruku’ dengan tuma’ninah

14. I’tidal dengan tuma’ninah

15. Sujud dengan tuma’ninah

16. Duduk di antara dua sujud dengan tuma’ninah

17. Sujud kedua dengan tuma’ninah

18. Tahiyat akhir dengan tuma’ninah

19. Salam

02/03/22

INGIN KUKABARKAN

INGIN KUKABARKAN

Oleh : Ilham Akbar PW

Aku ingin bercerita jika senja itu sebenarnya tidak indah, karena seringkali aku menikmatinya sendiri hanya menciptakan kerinduan yang kerap membuat sesak di dada.

Aku ingin mengatakan jika jingga tidaklah merah merona selepas kepergianmu, semua nampak menjadi merah darah, bahkan angin yang berdesir 'pun hanya menamparkan getir.

Nyatanya semesta hanya melengkapi kebahagian , karena yang menciptakan bahagia itu sendiri adalah ; Kita.

Namun takdir tidak bisa dipungkir, aku kehilangan setelah menjadikanmu sebagai pelengkap kekuranganku.

Andai bisa kumengetuk pintu langit, ingin kukabarkan jika rindu yang paling menyakitkan nan semu, ialah rindu pada yang telah tiada. 

24/02/22

Mencintai dalam Diam

 

Mencintai dalam Diam


Entah harus dari mana harus kumulai cerita ini
Kabut sunyi perlahan mulai merayap di hati

Aku yang mencintaimu dalam diam
Menahan rindu yang kian tak teredam

Ingin rasanya aku bertemu denganmu
Tapi, menyapamu saja aku tak mampu
Lalu, apa dayaku?
Bahkan anginpun membisu
Ketika aku mengadu tentang apa saja yang bertalian dengan dirimu

Mungkin bagiku cukup Tuhan yang tahu
Tentang apa dan bagaimana perasaanku
Karena bahagiaku, masih bisa menyelipkan namamu dalam setiap doaku

23/02/22

Rindu Rumah

 

Rindu Rumah

Lewat senandung doa, kuucapkan rindu pada ibu

Lewat adzan, kulantukan ajakan pada ayah

Aku merindu, rindu rumah dan kalian 

Tapi apakah masa depan akan aman jika selalu dirumah

Tak apa, kujalani 6 tahun ini 

Bapak Ibu, doakan dari sana. Akupun tahu kalian rindu

Tak mengapa jauh

Kelak keberkahan akan kita rengkuh

                                               

                                    Ilham Akbar PW

20/02/22

Hidup Tapi Seperti Mayat

Hidup Tapi Seperti Mayat

Bertamu, main HP...

Ngaji, main HP.....

Terima tamu, main HP..

Belajar, main HP

Bekerja, main HP

Sambil makan, main HP...

Di tengah keluarga, main HP...

Kiamatlah duniamu tanpa HP

Kadang terlihat dua orang duduk saling berhadapan tidak berbicara samasekali, karena salah satu atau keduanya main HP. Kalaupun harus bicara akhirnya tidak nyambung dan muncul sikap tidak lagi peduli.

Punya masalahpun bukannya mencari keluarga yang dekat, tapi membahas di sosmed rasanya lebih "afdhol".

Manusia menjadi " ada tapi tiada " sahabat....Jasad jasad yang telah menjadi zombie berkeliaran. Hidupnya hanya seputar dunia dalam ponselnya.

Basahnya embun pagi...

Hangatnya matahari pagi..

Jabat erat tangan sahabat telah hilang dan diganti dengan gambar gambar mati dalam ponselnya.

Gerak hebat akan petualangan bumi juga sudah diganti dengan gerak jempol dan telunjuknya.

Wajah wajah mulai pucat, tubuh mulai ringkih, pahala pahala berterbangan sia sia sebagai resiko terburuk yang mungkin dimiliki. Padahal engkau tidak ke mana mana dan belum melakukan apapun selain menggerakan jempol dan jarimu pada layar kecil nan penuh sihir ini.

Hidup dalam kematian itu adalah keniscayaan, tapi mati dalam kehidupan itu adalah pilihan.

Maka bangunlah!!! Hiduplah sebagaimana manusia itu hidup.

Saat suami/istri datang, simpan HPmu

Saat anak bercerita. simpan HPmu

Saat orangtua bicara, simpan HPmu

Saat tamu berkunjung, simpan HPmu

Saat rumah bau dan berantakan, simpan HPmu

Saat matahari merekah, udara sejuk, angin semilir, burung bersiul, anak anak tertawa riang, sekali lagi simpan HPmu.

Perhatikan duniamu dengan seksama. Sebab nikmat Ilaahi ada di sana.

Hiduplah!!!!

Engkau belum mati tapi bertingkah seperti mayat...

😭😭😭.

  

01/12/21

Notif

 ***

Awalnya, aku hanya menjadi pengagum diam-diam. Setiap kali melihat postinganmu di Facebook, jari ini seperti punya kebiasaan sendiri untuk menekan tombol love. Entah kenapa, ada perasaan lega setiap kali melihat notifikasi itu muncul di akunmu, meski aku tahu mungkin bagimu hanya sekadar notifikasi biasa. Namun bagiku, itu adalah cara kecil untuk menunjukkan keberadaan, cara sederhana untuk bilang, "Hei, aku di sini, memperhatikanmu."

***

Sampai suatu malam, aku memimpikanmu. Mimpi itu terasa begitu nyata seolah kita sedang berada di tempat yang sama tanpa ada jarak. Saat terbangun, aku masih merasakan getaran hangat dari mimpi itu. Dari situlah keberanian kecil mulai tumbuh. Aku berpikir, mungkin ini saatnya untuk keluar dari diam, memberanikan diri menyapa.

Sore itu aku membuka Messenger, mengetikkan beberapa kata sederhana, lalu memikirkanya lagi berkali-kali. Ada rasa takut, khawatir dianggap aneh, atau mungkin diabaikan. Tapi akhirnya, dengan sedikit nekat, aku mengirim chat pertama:

Aku:  ““Maaf kalu lancang cuman siape ini yeh???  galak ngenjuk notif, cuman nak tau saje Karne sering nian ngenjuk notif Dide bermaksud ape²?". “Aku Dide teganggu cuman ape aku kenal? Atau keluarge?”

Awalnya, aku hanya berniat basa-basi, sekadar mencari alasan untuk memulai percakapan. Tak kusangka, kamu membalas dengan ramah. Dari situ, obrolan kita mengalir begitu saja. Hal-hal kecil menjadi bahan tawa, pertanyaan sederhana berubah jadi cerita panjang.

Jam demi jampun berganti, percakapan kita semakin intens. Setiap notifikasi Messenger darimu selalu berhasil membuat malamku lebih cerah. Rasanya aneh, tapi menyenangkan seakan kita sudah lama kenal, padahal kenyataannya baru sebentar bertegur sapa. Dari hanya sekadar notifikasi love, hadirnya dalam mimpi, hingga akhirnya berani menyapa lewat chat, aku tak pernah menyangka semuanya bisa menjadi awal dari sebuah cerita yang begitu hangat.

INDUSTRIALIASI PENDIDIKAN TINGGI: BAGAIMANA NASIB PRODI ILMU KEAGAMAAN?

Oleh: Dr. Kholili Hasib Dipublikasikan ulang oleh: Ilham Akbar, M.Pd. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti sainte...